infrastrukturbandarlampung

Seluruh Izin Pembangunan Flyover Sultan Agung Harus Dilengkapi

( kata)
Seluruh Izin Pembangunan Flyover Sultan Agung Harus Dilengkapi
Rapat pembahasan rencana pembangunan flyover di Jalan Sultan Agung Bandar Lampung di Kantor Bappeda Lampung, Senin, 13 Juli 2020. Lampost.co/Triyadi Isworo

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pembangunan flyover di Jalan Sultan Agung Bandar Lampung masih banyak menimbulkan polemik di masyarakat, seperti omzet pedagang sekitar yang turun, kemacetan lalu lintas, debu bertaburan, dan sebagainya. Kondisi itu membuat Kementerian Perhubungan turun melakukan pemantauan.

Direktur Lalu Lintas Jalan Kementerian Perhubungan Sigit Irfansyah mengatakan ada dua hal yang didiskusikan, yakni analisis dampak lalu lintas (andalalin) dan izin perlintasan yang masih berproses di Dirjen Perkeretaapian. Izin-izin tersebut harus segera dilengkapi agar pembangunan bisa dilanjutkan.

"Karena ini jalan kota, nanti adalalin yang memantau di kota rekomendasinya apa saja. Kemudian bergantung semua catatan yang ada dilengkapi atau tidak. Bila dilengkapi, izin bisa cepat selesai," kata Sigit usai rapat pembahasan rencana pembangunan flyover di Jalan Sultan Agung, Bandar Lampung, di Kantor Bappeda Lampung, Senin, 13 Juli 2020.

Apabila perizinannya masih berproses, sebaiknya proses pembangunan dihentikan sementara menunggu perizinannya selesai. Dia mengatakan pihaknya juga melakukan monitor mengenai hal tersebut.

"Kalau kami dari Perhubungan harus ada izin terkait panjang bentang dan sebagainya karena melewati lintas kereta api. Lagi proses di Dirjan Perkeretaapian sehingga sampai saat ini belum keluar izinnya," katanya.

Berita terkait: Herman HN: Flyover Sultan Agung Itu Jalan Kota

Sementara itu, Sekretaris Provinsi Lampung, Fahrizal Darminto mengatakan rapat tersebut merupakan tindak lanjut dari banyaknya respons masyarakat terhadap pembangunan flyover di Jalan Sultan Agung. Pihaknya mengundang semua stakeholder terkait untuk mendengarkan seperti apa pembangunan tersebut. 

"Setelah mendengar pemaparan terkait pembangunan, kami merespons dan memberikan masukan-masukan supaya pekerjaan itu sesuai dengan standar konstruksi," katanya.

Apabila ingin mendirikan bangunan, khususnya flyover, harus memperhatikan faktor keamanan, kenyamanan, dan keindahan. Selain itu, disoroti juga tentang aspek sustainability (berkelanjutan), jangan sampai dibangun flyover, tapi kegiatan ekonomi di sekitarnya menjadi mati semua.

Oleh sebab itu, pihaknya memberikan beberapa masukan yang nantinya akan secara resmi diberikan untuk dipenuhi standar lalu lintas selama masa konstruksi, pascakonstrusksi, dan standar daya dukung konstruksi.

"Jalan Sultan Agung itu kan jalan kelas tiga yang harus menahan beban sekitar 8 ton minimal. Kalau kita bikin flyover, kendaraan yang 8 ton juga harus bisa naik ke atas. Artinya, kapasitas konstruksinya harus lebih dari 8 ton, kalau kurang dari itu berarti tidak aman. Oleh sebab itu, harus dijadikan catatan penting. Kita meminta pemerintah kota melengkapi syarat-syarat yang ada," katanya. 

Pembangunan flyover tersebut mulai dibangun pada Juni 2020. Rencananya flyover tersebut memiliki panjang 250 meter, lebar 10 meter, tinggi ruang bebas 6,4 meter, pondasi jembatan satu meter, gelagar jembatan 2,1 meter, jumlah tiang pier lima buah, dua buah abutment, dan panjang bentang girder 34 meter. Total anggaran pembangunan menelan dana sekitar Rp35 miliar.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar