#dugaantipikor#agrowisatamelon

Selisih Pendapatan Agrowisata Melon, Unila Laporkan Pihak Ketiga

( kata)
Selisih Pendapatan Agrowisata Melon, Unila Laporkan Pihak Ketiga
Agrowisata melon Unila. Dok. Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Universitas Lampung (Unila) melaporkan Sari Rogo sebagai pihak ketiga pengelolaan Agrowisata Melon ke Kejaksaan Tinggi Lampung. Hal itu karena Unila menilai bagi hasil yang dilakukan dalam kerja sama bermasalah.

Laporan itu disampaikan Badan Pengelola Usaha (BPU) Unila melalui surat Nomor 344/UN26/KU/2020 tertanggal 11 November 2020 yang ditandatangani Direktur Utama Mustofa Endi Saputra Hasibuan.

Ia menjelaskan modus dugaan tipikor itu adalah tidak disetorkannya secara penuh imbalan hasil kerja sama ke kas negara c.q. rekening BNI KCP Unila atas nama RPL 017 BLU Unila. Dalam evaluasi laporan, BPU Unila menilai laporan keuangan Sari Rogo tidak bisa diterima karena tidak didukung data-data yang dapat divalidasi.

Kemudian, BPU Unila menemukan terdapat pos pendapatan hasil kebun Agrowisata Unila yang dihitung Sari Rogo menggunakan harga grosir, dengan perincian melon golden Rp8.000, melon honey atau titanium Rp10 ribu, melon sky Rp5.000, dan melon rock Rp7.000. 

Padahal, berdasarkan catatan BPU Unila hasil tersebut dijual secara retail kepada konsumen dengan harga melon golden Rp20 ribu, melon honey/titanium Rp25 ribu, melon sky Rp15 ribu, dan melon rock Rp10 ribu. BPU Unila juga menemukan beberapa pos pendapatan yang belum dilaporkan Sari Rogo, seperti pos pendapatan penjualan melon/semangka yang bersumber bukan dari lahan kebun agrowisata Unila.

"Iya benar kami sudah laporkan masalah kerja sama kebun melon dengan Sari Rogo ke Kejati Lampung karena ini menyangkut keuangan negara. Tidak masuk akal Unila cuma kebagian bagi hasil Rp2,5 juta. Ada indikasi kecurangan dan rekayasa laporan penjualan," ujar Mustofa.

Padahal, katanya, lahan yang disediakan 1 hektare, jumlah pengunjung sekitar 8.500 orang dari berbagai kalangan dengan tiket Rp10 ribu per orang. Selain itu, hasil panen juga mencapai 12 ton.

Endi juga mengklaim telah meminta Sari Rogo memenuhi hak Unila sesuai dengan perjanjian kerja sama. Namun, Sari Rogo tidak pernah mengindahkan permintaan itu.

Sementara, terkait hal itu, Sari Rogo mengungkapkan telah terjadi perbedaan perhitungan antara pihaknya dan BPU Unila. Perbedaan itu terdapat pada harga dalam laporannya dan yang diinginkan Unila.

Sari Rogo menjelaskan melon yang dijual dengan harga eceran mayoritas melon dengan grade A. Penjualan dilakukan langsung di lokasi agrowisata kepada pengunjung.

Sedangkan untuk buah dengan kualitas B dan C atau kualitas rendah tidak dijual di lokasi wisata. Melon dengan kualitas rendah tersebut dijual kepada pengepul dengan harga grosir.

Ia mengklaim hal itu berdasarkan permintaan Rektor Unila Karomani. Menurut dia, Rektor meminta agar hanya buah dengan kualitas baik yang dijual di Unila.

"Ini yang menjadi perbedaan, kami menjual ke pengepul dengan harga grosir karena tidak mungkin menjual kepada pengepul dengan harga eceran," ujarnya.

Menanggapi pelaporan dari Unila, ia mengaku siap jika nanti dipanggil untuk dimintai keterangan. Namun, Sari Rogo menyesalkan adanya pembongkaran sepihak taman agrowisata melon oleh Unila.

"Itu tidak sesuai dengan kontrak di awal, kontrak yang ditandatangani yakni satu tahun, artinya habis pada Juni 2021," ujarnya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar