nuansa

Selaras dengan Alam

( kata)
Selaras dengan Alam
Pixabay

Wandi Barboy
Wartawan Lampung Post

KORAN Lampung Post, Kamis (28/5), pada halaman satu tertera judul besar Masifkan Gerakan Pemulihan. Ini menandakan Lampung siap mendukung adanya tatanan kehidupan baru yang disebut new normal versi Pemerintah Pusat.

Sejauh ini, hanya beberapa provinsi yang mulai menerapkan new normal dengan perlahan tapi pasti. Lampung belum termasuk provinsi yang mulai menerapkan new normal.

Tidak sedikit pihak yang mengritik kebijakan baru ini. New normal dianggap senjata pemerintah untuk menyerahkan segalanya pada seleksi alam. Yang kuat bertahan dan yang lemah menjadi tumbang. Untuk ini, Pemerintah Pusat langsung mengeluarkan bantahannya melalui juru bicara penanganan Covid-19, Achmad Yurianto.

Dikepung berbagai ihwal pelik di atas, saya lantas ingat dengan buku Slavoj Zizek berjudul Pandemic! Covid-19 Shakes the World. Ia menyuguhkan sejumlah fakta paradoksal dari Covid-19. Namun, yang menarik saat ia memaparkan sejumlah paradoks itu dalam bukunya, pengantar bahasan itu diangkat dari kisah Injil. Sebuah cerita tentang Maria Magdalena yang bertemu Yesus setelah Yesus bangkit dari kuburnya. 

Kisah itu disarikan dari perikop Injil Yohanes 20:11—18. Judul perikopnya: Yesus Menampakkan Diri kepada Maria Magdalena. Namun, Zizek hanya mengambil secuil kalimat pada Pasal 17 yang berbunyi, “Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa”. 

Pengantar buku tersebut berjudul Introduction; Noli Me Tangere; dicomot dari bahasa Latin berarti ‘Jangan Sentuh Aku’. Satu kisah dari Injil itu menjadi pembuka yang menarik. Seperti diketahui, dari pandemi Covid-19 ini, kita belajar bersama untuk menjaga jarak fisik. 

Selain itu, model pembangunan neoliberal yang menekankan pada pertumbuhan ekonomi telah bermuara pada kerusakan dan bencana ekologis. Maka, manusia perlu belajar hidup selaras dengan alam. 

Tetiba saya teringat dengan penulis sekaligus penyair AS, Henry David Thoreau, yang mengingatkan kita akan pentingnya menyepi dan berbaur dengan alam dalam bukunya, Walden or Life in the Woods

Hidup di tengah alam membuat Thoreau lebih peka. Ia mengamati perubahan alam seiring musim berganti di tepi Danau Walden. Mirip fase kehidupan manusia. Thoreau juga bersahabat dengan hewan di sekitarnya.

Dari setiap perilaku alam dan hewan, Thoreau selalu menarik pelajaran. Ia mengguratkan makna yang disimpulkan dari pengalamannya selama menyendiri. Menurutnya, kita harus menjalani hidup seutuhnya dan terus menggali potensi diri yang acap tertutup oleh rutinitas kehidupan.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar