#LAMPUNG

Sektor Wisata Bisa Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi 2023

( kata)
Sektor Wisata Bisa Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi 2023
Salah satu wisata kebun binatang yang ada di Lampung. Lampost.co/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pakar Ekonomi Lampung, Asrian Hendi Cahya mengatakan dicabutnya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) oleh Presiden Joko Widodo pada 30 Desember 2022, akan mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2023, terutama pada sektor wisata dan perhotelan.

"Adapun sektor yang diperkirakan akan tumbuh positif 2023 seperti pariwisata termasuk perhotelan, restoran, cafe, dan transportasi juga akan menjadi primadona. Sebab kemarin ada kebijakan pencabutan PPKM oleh Presiden," kata dia, Selasa, 03 Januari 2023.

Asrian mengatakan, tidak adanya kebijakan PPKM akan mempengaruhi minat masyarakat untuk berlibur hingga berbelanja. Sebab, tak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa pencabutan PPKM tersebut merupakan awal bangkitnya perekonomian.

"Masyarakat sekarang tidak ragu lagi untuk berpergian, untuk belanja, itu juga tentunya akan meningkatkan daya beli masyarakat yang akhirnya berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi," kata dia.

Selain itu, konsumsi rumah tangga juga diprediksi masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi di Lampung. Namun tekanan inflasi dan suku bunga yang berdampak pada daya beli masyarakat menengah ke bawah juga harus diwaspadai.

"Pemerintah tentunya harus mengeluarkan kebijakan-kebijakan agar inflasi dapat terkendali, kalau tidak maka akan sangat mempengaruhi tingkat kenaikan ekonomi nasional yang diprediksi tidak mencapai 5 persen," ujar Asrian.

Sektor lain, lanjut Asrian, menjelang pemilihan umum (pemilu) 2024, usaha seperti percetakan, jasa periklanan, gedung dan hiburan rakyat juga diperkirakan mengalami pertumbuhan pada 2023.

"Tahun politik meski masih 2024, tapi prosesnya akan dimulai sejak tahun ini. Jasa cetak baju, sablon, bahkan sembako-sembako itu juga bisa menopang pertumbuhan ekonomi di Lampung tahun 2023," kata dia.

Namun, lanjut Asrian, sejak 2022 dunia telah dipengaruhi pada konflik geopolitik yang akhirnya mendorong kenaikan harga komoditas serta mengakibatkan inflasi tinggi di seluruh dunia. Kondisi tersebut nyatanya juga berdampak terhadap perekonomian nasional.

"Kondisi itu juga berpengaruh ke daerah, berpengaruh kepada laju pertumbuhan ekonomi di daerah. Misal, dampak konflik Rusia-Ukraina itu berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan penyesuaian harga BBM, adanya peningkatan angka PHK akibat demand ekspor yang rendah, dan lainnya," kata dia.

Deni Zulniyadi








Berita Terkait



Komentar