#tumbai#orangabung#ketimur

Sedikit demi Sedikit, Orang Abung Tergusur ke Wilayah Timur

( kata)
Sedikit demi Sedikit, Orang Abung Tergusur ke Wilayah Timur
Ilustrasi. (Dok.Lampost.co)

CERITA orang Abung yang dapat menempa baja dingin menjadi belati hanya dengan tangan kosong adalah suatu bentuk penghormatan bagi orang Abung. Jika kita ingin menaksir waktu atas makna 12 generasi, menurut hitungan Roos hanya 10, waktu pengusiran orang Abung utara dari tempat tinggalnya ini jatuh hampir bersamaan dengan perpindahan suku-suku Abung lainnya dari pegunungan di wilayah selatan di antara Danau Ranau dan Tanggamus.

Hal yang paling menarik bagi Funke adalah menyelidiki asal-usul pendatang yang memasuki wilayah selatan di sekitar sungai Nasal dalam waktu hampir bersamaan. Wilayah ini adalah sebagian dari daerah perkampungan yang dimulai dari luar Pagaruyung, dahulu di Minangkabau, dan membentang melewati wilayah paling selatan pesisir barat Sumatera. Perkampungan Sumatera Barat ini lebih dulu dihadapi saat meneliti arus penduduk di Lampung.

Telah ditetapkan di wilayah utara, di Way Nasal tinggal kelompok bangsa yang sama yang mengusir orang Abung dari tempat tinggalnya. Atau mungkin mereka mendesak dengan cara yang memaksa sedikit demi sedikit ke wilayah timur.

Daerah pertahanan orang Abung di Bandaragung bukanlah barang bukti nyata. Bilah-bilah bambu, kesenian yang digemari di seluruh Asia Tenggara untuk melindungi desa, atau tempat tinggal dari serangan musuh-menancap di tanah dalam 10 generasi tanpa membusuk. Sebaliknya, penduduk yang sekarang menganggap benteng ini musuh mereka.

Ingatan akan bangsa yang dulunya ditakuti ini tetap ada hingga saat ini. Nama pengambil bagian utama yang diceritakan pada pertempuran itu merupakan bukti bahwa ingatan terhadap peristiwa itu tetap hidup. Nama pengkhianat itu dapat saja nama orang Abung.

Hal yang kemudian menarik adalah penelitian atas bahasa orang-orang Nasal sekarang yang sebagian memakai dialek orang Abung. Cerita-cerita tersebut memberikan informasi bahwa peristiwa itu dapat digabungkan ke dalam rekonstruksi cerita sebelumnya dari bangsa Abung.

Dari cerita penduduk yang sekarang mengenai pengusiran orang Abung lama dari wilayah tenggara Danau Ranau, pusat Sekala Bkhak lama. Pegawai kolonial Belanda bernama Westenenk mendapatkan informasi itu pada musim panas tahun 1015 dari para pemimpin adat di Negarabatin (Liwa).

Berdasarkan cerita tersebut, suku-suku Paminggir yang kini dapat dijumpai di sana, memasuki dari pegunungan Pesagi ke wilayah Kenali, Batuberak, Kembahang, dan Sukau. Keterangan itu tidak memberikan informasi banyak karena pegunungan tersebut menjulang setinggi 2.232 meter.

Bukit di kaki gunung ini sangat curam dan hampir tidak dapat dilewati, tidak cocok untuk dihuni. Dataran tinggi dengan tanah subur berada di wilayah selatan di sekeliling pegunungan. Pesagi merupakan simbol keseluruhan wilayah.

Informasi lain mengatakan para pendatang menyebut daerah baru ini dengan Balik Bukit. Nama ini menunjukkan daerah asal para pendatang itu.

Dataran tinggi Negarabatin—Kenali berakhir di wilayah barat, barat daya, dan selatan dari lingkar pegunungan bukit barisan yang menjulang seperti dinding tinggi di antara dataran tinggi di timur dan daerah pesisir Kroe.

Penduduk asing ini adalah nenek moyang dari suku-suku Paminggir yang sampai sekarang masih dipandang sebagai keturunan keempat pangeran dari Minangkabau. Pangeran itu merupakan pemimpin para pendatang yang berasal dari Sumatera Barat sekitar menjelang akhir abad ke-13 Masehi yang menghuni daerah Pesisir Krui.

Pendatang itu lalu masuk ke sekitar lingkar pegunungan bukit barisan di balik dataran tinggi, tempat mereka membuat pemberhentian di bukit di kaki Gunung Pesagi. Dari sana, mereka menduduki seluruh wilayah Negarabatin hingga ke daerah Kenali sekarang.

Menyadur buku Orang Abung, Catatan Rakyat Sumatera Selatan dari Waktu ke Waktu oleh Friedrich W Funke.

Berita Terkait

Komentar