pengadilansidang

Sebar Video Asusila hingga Lecehkan TKW di Taiwan Dipenjara 2 Tahun

( kata)
Sebar Video Asusila hingga Lecehkan TKW di Taiwan Dipenjara 2 Tahun
Sidang putusan terdakwa Anton Sujarwo (31) dengan penjara selama 2 tahun. Lampost.co/Febi Herumanika


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang menghukum terdakwa Anton Sujarwo (31) dengan penjara selama 2 tahun. Warga Desa Sidoarjo, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, itu dinyatakan terbukti bersalah melakukan penyebar konten porno.

Hakim Hendro Wicaksono, mengatakan terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja tanpa hak mendistribusikan informasi elektronik dan dokumen elektronik yang memiliki muatan kesusilaan.

Perbuatan terdakwa kata Hakim Handro, sebagaimana diatur dalam dakwaan alternatif kedua Pasal 45 ayat (1) Jo. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan transaksi Elektronik.

" Mengadili menjatuhkan pidana kepada terdakwa Anton Sujarwo dengan pidana penjara selama 2 tahun dengan perintah tetap berada dalam tahanan," kata Hakim, Senin 4 Januari 2020.

Selain pidana penjara hakim juga mewajibkan terdakwa membayar pidana denda Rp100 juta. Dengan ketentuan jika denda tidak dibayar diganti pidana kurungan tiga bulan.

" Menetapkan barang bukti dua akun alter Facebook dengan Anita Sari dan Nita Bohay, satu akun WhatsApp, satu SIM-card, satu smartphone, 20 tangkapan layar di Facebook untuk dirampas dan dimusnahkan," kata hakim.

Vonis majelis hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa dengan penjara selama 2,5 tahun.

Dalam perkaranya, kasus tersebut bermula pada 15 April 2020 saksi SM warga Tulangbawang Barat mendapat telepon dari istrinya, AS yang sedang bekerja di Taiwan. AS memberitahukan pernah melakukan panggilan video whatsapp dengan terdakwa sejak 2018.

"Istrinya mengakui jika terdakwa merayunya untuk membuka pakaian dan memperlihatkan auratnya saat melakukan panggilan video WhatsApp," kata jaksa.

Lalu tanpa sepengetahuan AS, terdakwa merekam panggilan video tersebut. Selanjutnya, kata Jaksa, terdakwa mengunggah video tersebut melalui status WhatsApp miliknya dan meminta AS untuk mengirimkan sejumlah uang.

"Korban mengirim Rp5 juta kepada terdakwa dan sejak 2018 terdakwa memaksa AS untuk mengirimkan uang dan melakukan video call sex dengan ancaman akan menyebarkan rekaman video tersebut," katanya.

Korban AS terpaksa mengikuti kemauan terdakwa karena takut akan disebar ke media sosial. "Saksi SM mengetahui jika terdakwa membuat akun palsu menggunakan foto profil AS dan sering mengunggah foto, video dan kata-kata yang bermuatan asusila ke beranda dan grup Facebook Pasar Online Taiwan," katanya.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar