petani

Sebagai Petani Kelapa Sawit, Kami Hanya Bisa Berharap

( kata)
Sebagai Petani Kelapa Sawit, Kami Hanya Bisa Berharap
Petani kelapa sawit, warga Desa Batunangkop, Kecamatan Sungkai Tengah, di areal lahannya beberapa hari lalu. (Lampung Post/Yudhi Hardiyanto)


KOTABUMI (lampost.co) -- Harga kelapa sawit di awal Maret 2020 secara bertahap mengalami kenaikan. Dari sebelumnya Rp850/kg naik menjadi Rp1.200/kg. Hanya saja, apakah kenaikan harga yang disambut gembira petani kelapa sawit di Kabupaten Lampung Utara itu dapat tetap bertahan. 

"Panen kelapa sawit setiap dua minggu sekali atau sebulan dua kali dan hasil panen langsung dijual ke pihak pengepul. Harga kelapa sawit pada akhir November 2020 di lapak tercatat telah mengalami kenaikan Rp1.550/kg," ujar petani kelapa sawit, warga Desa Sumber Arum, Kecamatan Kotabumi, Merison Effendi, di kediamannya, Jumat (11/12/2020). 

Harga kelapa sawit Rp1.550/kg di tingkat pengepul itu, kata dia, merupakan harga kotor, sebab belum dipotong kadar air sebesar 10 persen atau senilai  Rp115/kg dan jasa panen serta angkut Rp200/kg. 

"Untuk hasil bersih penjualan kelapa sawit di lapak yang kami terima Rp1.195/kg," ungkapnya. 

Produktifitas kelapa sawit yang dia kelola per hektare berkisar 3 ton/panen/bulan. Dalam setahun, dibutuhkan pupuk sekitar 1 ton terdiri dari pupuk kimia poska sebanyak 5 kwintal dengan total harga Rp1.700 ribu ditambah biaya pemupukan Rp300 ribu atau dengan total biaya Rp2 juta. Sedangkan, pupuk organik untuk 5 kwintal sebesar Rp200 ribu dan ongkos penebaran pupuk Rp100 ribu. 

"Kalau di kalkulasi, biaya produksi setahun untuk pupuk kimia dan pupuk organik Rp2.300.000/hektare. Biaya tersebut, ditambah biaya pemotongan pelepah sawit per batang Rp2 ribu. Dengan jumlah 250 batang kelapa sawit, biaya total yang mesti dikeluarkan Rp500 ribu sedangkan biaya pembersihan lahan Rp700 ribu/hektare. Berarti setahun dibutuhkan biaya senilai Rp3,5 juta," tuturnya menambahkan.  

Disinggung berapa nilai ideal harga kelapa sawit, dia menjawab, di tingkat petani hasil bersih tanpa potongan mestinya Rp1.400/kg. Dengan pertimbangan dari hasil bersih kelapa sawit Rp1.195/kg di kali dua kali panen dalam sebulan sebesar 3 ton, di peroleh hasil Rp3.585.000. Hasil itu, belum dapat menjadi patokan sebab selain dipotong biaya modal perawatan setahun, harga kelapa sawit masih mengalami fluktuasi belum lagi masa trek atau masa kelapa sawit tidak berbuah antara 4 hingga 6 bulan yang biasanya terjadi saat musim kemarau. 

"Dengan kenaikan harga saat ini, kami hanya bisa berharap harga tetap bertahan tinggi. Sebab, harga sewaktu-waktu dapat anjlok seperti tahun sebelumnya. Kami hanya menerima hasil bersih setelah bila dipotong biaya modal antara Rp4 juta hingga Rp 6 juta setahun, sehingga wajar saat itu banyak petani kelapa sawit beralih komoditas pertanian sebab tidak lagi dapat menjadi sandaran penghidupan keluarga," kata dia lirih. 
 

Ricky Marly







Berita Terkait



Komentar