jokowikehormatan

Saur Hutabarat, dari Salah Jurusan Hingga Diganjar Tanda Kehormatan dari Negara

( kata)
Saur Hutabarat, dari Salah Jurusan Hingga Diganjar Tanda Kehormatan dari Negara
Ketua Dewan Redaksi Media Group Saur Hutabarat. Dok: MI

JAKARTA (Lampost.co) -- Tak ada yang bisa memungkiri sepak terjang Saur Hutabarat sebagai seorang wartawan senior. Pria kelahiran Jambi, 3 Januari 1953 ini telah 40 tahun berkecimpung di dunia jurnalistik profesional. Jejak karier di pers mahasiswa Universitas Gadjah Mada juga tak bisa dinafikan.

Pada Maret 1980, Saur memulai karier profesional sebagai jurnalis di Tempo. Rekam jejaknya di dunia jurnalistik Tanah Air pun bertambah panjang.

Dari Tempo, dia pindah ke majalah berita Editor. Kariernya melejit saat pindah ke Media Indonesia. Saur pernah menduduki posisi penting sejumlah media di bawah Media Group yang dimiliki Surya Paloh.

Dia pernah dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Harian Media Indonesia. Saur pun pernah menjadi Pemimpin Redaksi Metro TV, televisi berita pertama di Indonesia.

Tak berhenti di situ. Dia juga sempat katif sebagai penulis Editorial di Media Indonesia. Di Metro TV, dia kerap muncul sebagai pembedah dalam program Bedah Editorial. Dia juga pernah menjadi pembawa acara program Save Our Nation.

Berhenti berkarya sepertinya tak ada dalam kamus hidup Saur. Dia sempat dipercaya menjadi Ketua Media Center Jokowi-JK pada Pemilihan Presiden (Pilpres 2014).

Dia kini menjabat sebagai Ketua Dewan Redaksi Media Group yang menaungi Harian Lampung Post, Media Indonesia, Metro TV, Medcom.id, dan beragam anak perusahaan. Dia juga tak berhenti menulis di Media Indonesia dalam rubrik Podium.

Itu hanya segelintir kiprah besar wartawan senior Media Group. Tak ayal lagi, dia diganjar anugerah bidang pers jelang perayaan Hari Ulang Tahun ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Presiden Joko Widodo menganugerahi Saur tanda kehormatan Bintang Jasa Nararya sebagai tokoh pers yang berkontribusi besar dalam bidang jurnalistik. Penghargaan diserahkan pada Kamis, 13 Agustus 2020.

Medali Kepeloporan dan tanda kehormatan terdiri atas Bintang Mahaputera, Bintang Jasa, dan Bintang Penegak Demokrasi dianugerahkan kepada Saru dan 58 tokoh lain. Anugerah ini dituangkan dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 51, 52, dan 53/TK/TH 2020 tanggal 22 Juni 2020 dan Nomor 79, 80, dan 81/TK/TH 2020 tanggal 12 Agustus 2020.

Sempat salah jurusan

Ayah dua anak dan kakek dua cucu itu ternyata memiliki pengalaman menarik di kehidupannya. Salah satunya, salah jurusan sebelum berkelindan dengan dunia pers.

Dia awalnya memilih masuk jurusan Matematika, Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada, pada 1971. Dia mengaku 'kepedean' dengan bekal nilai ilmu pasti dengan rata-rata nilai 8 di ijazah.

Dia lebih jatuh cinta dengan Perpustakaan Pusat UGM. Buku demi buku dia lahap. Dia juga kadung cinta dengan kesusastraan dan budaya saat bertemu beragam majalah dan buku yang tak ditemukannya di tanah kelahiran.

"Apakah saya berhasil? Gagal. Drop out!" kata Saur dalam autobiografi singkatnya.

Merasa tak cocok melanjutkan pendidikan ilmu murni, dia pindah ke ke Jurusan Teknik Sipil di Universitas Atmajaya. Lagi-lagi dia gagal melanjutkan studi. Namun, kali ini dia yang ‘mendepak diri’ pada 1973.

Pada 1974, dia memantapkan diri hijrah ke Jurusan Publisistik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Dia mulai menulis dan dimuat di koran nasional Kompas dan Sinar Harapan.

Saur aktif mengasuh Gelora Mahasiswa, surat kabar mahasiswa UGM. Mulai reporter, redaktur, pemimpin umum, hingga diberedel rektor UGM karena bersuara keras lewat tulisan. Dia akhirnya lulus sarjana pada penghujung 1979.

"Salah pilih jurusan? Setelah beranak cucu, izinkan saya mengoreksi pernyataan itu. Yang benar dan jujur, saya tidak cukup cerdas untuk menjadi matematisi dan tidak cukup berbakat untuk menjadi insiyur sipil," tulis dia dalam autobiografi yang ditulisnya di Jakarta, 3 Oktober 2016.

Winarko



Berita Terkait



Komentar