hukumpengadilan

Satu dari Empat Terdakwa Kasus Narkoba Dihukum Seumur Hidup

( kata)
Satu dari Empat Terdakwa Kasus Narkoba Dihukum Seumur Hidup
Penasehat Hukum Terpidana Mati


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Karena dinilai tidak terlibat secara langsung dalam peredaran jaringan gelap narkotika sebanyak 41,6 Kg, Pengadilan Tinggi Tanjungkarang memvonis hukuman seumur hidup terhadap Suhendra Alias Midun, satu dari empat terdakwa hukuman mati yang diputuskan oleh Pengadilan Negeri Tanjungkarang beberapa waktu lalu.

Nelson Romanof, Penasehat Hukum dari terdaakwa Suhendra Alias Midun yang diputuskan dihukum seumur hidup dari hukuman mati sebelumnya, membenarkan jika kliennya diputus oleh pengadilan tinggi dihukum seumur hidup yang sebelumnya dihukum mati.

 " Ada beberapa alasan Pengadilan Tinggi menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada terdakwa dari hukuman mati, salah satunya Suhendra tidak terlibat secara langsung, selain itu dia juga belum pernah dihukum sebelumnya," kata Nelson, Minggu, 27 September 2020.

Putusanya, lanjut Nelson, diterima pada 17 September lalu, selanjutnya timnya melakukan upaya hukum kasasi atas permintaan dari terdakwa Suhendra.

"Alasan kami tetap sama pada saat pengajuan hukuman panding kemarin, tidak ada pendampingan oleh pengacara pada saat ditangkap (proses penyidikan), kemudian dia masih punya tanggungjawab dia juga menyesali perbuatannya, harapannya diterima dikasasi apa pun putusanya,"  kata dia.

Untuk harapan, hukuman sudah pasti meminta keringanan atau dibebaskan, karena dari mulai proses penyidikan terdakwa tidak ada pendampingan hukum sementara didalam aturan UU dijelaskan hukuman diatas 15 tahun harus didampingi pengacara, tetapi pada kenyataannya tidak ada pendampingan. " Itu kan suatu pelanggaran kalau tidak ada pendampingan," katanya.

Sebelumnya, empat terdakwa dalam jaringan pengiriman sabu 41,6 kilogram pilih pikir-pikir setelah divonis mati oleh Pengadilan Negeri Tanjungkarang.

Keempat terdakwa yakni Hatami alias Iyom, Supriyadi alias Udin, Jepri Susandi alias Uje dan Suhendra alias Midun.

Menurut Majelis Hakim, tidak ada keputusan lain selain hukuman mati. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Majelis Hakim Aslan Ainin saat membacakan pertimbangan keputusan dalam persidangan teleconfrance, Kamis 6 Agustus 2020 lalu.

Aslan menyebutkan hal yang memberatkan yakni kelima terdakwa perbuatan merusak generasi bangsa.

"Perbuatan kelima terdakwa merusak generasi bangsa, meresahkan masyarakat, dan tidak membantu program pemerintah dalam pemberantasan negara," kata Aslan.

Hakim Aslan menambahkan untuk hal yang meringankan majelis hakim menilai tidak ada. "Hal yang meringankan nihil, majelis hakim tidak mendapat alasan-alasan yang meringankan sehingga tidak ada pertimbangan yang ringan dalam putusan ini," katanya.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar