#satuarah#nuansa

Satu Arah

( kata)
Satu Arah
Dokumentasi Lampost.co

ARUS lalu lintas saat mudik Lebaran selalu padat. Kemacetan merupakan hal yang biasa terlihat di berbagai jalan menuju kampung halaman. Kebetulan keluarga saya selalu melaksanakan ritual mudik ke Desa Cibenda, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Perjalanan mudik dari Lampung menuju Bandung, untuk transit, tahun ini kami rasakan cukup lancar, karena kami melawan arus mudik utama, yakni berbondong-bondongnya warga Jakarta mudik ke Sumatera.

Kemacetan sempat kami rasakan ketika akan memasuki Jalan Tol Cikampek, karena kendaraan kami berjalan bersama rombongan arus mudik warga Jakarta menuju wilayah timur Jawa melalui Jalan Tol Trans-Jawa. Untungnya, pemberlakuan jalan satu arah mampu mengantisipasi kemacetan. Skema satu arah dilakukan menggunakan jalur arah berlawanan sebagai jalur tambahan.

Misalnya, ruas jalan tol ada empat di setiap arah. Akibat penerapan satu arah, arus kendaraan dari Jakarta menuju Jawa menjadi total enam jalur. Sementara arus kendaraan dari Jawa menuju Jakarta hanya disisakan dua jalur. Pemberlakukan sistem ini sangat efektif dilakukan oleh aparat kepolisian dan pemerintah untuk mengurai kemacetan. Sayangnya, skema ini baru dilakukan di Jalan Tol Trans-Jawa tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya arus mudik Lebaran didominasi kemacetan di sepanjang Jalan Tol Trans-Jawa.

Perjalanan kami dari Bandung menuju Pangandaran juga tidak terlalu terkendala kemacetan dan bisa sampai tepat pada waktunya. Hal ini berkat jajaran Polres Kabupaten Bandung dan Polres Garut yang menggunakan sistem buka-tutup atau satu arah di sepanjang jalan nasional dari tanjakan Nagreg hingga wilayah Pasar Limbangan, Kota Tasikmalaya.

Arus kendaraan dari Tasikmalaya menuju Bandung ditahan di beberapa pertigaan maupun area pasar. Cara ini dapat memaksimalkan membeludaknya arus kendaraan pemudik dari Bandung menuju Tasikmalaya maupun Kabupaten Ciamis. Kami pun tenang memaksimalkan penggunaan dua jalur jalan tersebut. Namun, tetap saja peribahasa mudik itu belum lengkap jika tidak merasakan macet benar adanya. Saat arus balik, perjalanan kami dari Pangandaran menuju Bandung mengalami kemacetan panjang. Berangkat pukul 16.00, kami baru tiba di Bandung keesokan harinya pada pukul 05.00. Total 13 jam perjalanan dari seharusnya hanya sekitar 8 jam perjalanan saja.

Namun, keterlambatan 5 jam dari jadwal seharusnya tersebut bukan terjadi di ruas jalan dari Tasikmalaya menuju Bandung. Kemacetan parah justru terjadi di jalan dari Pangandaran menuju Tasikmalaya. Pangandaran yang baru berdiri pada 25 Oktober 2012 ini tidak mampu mengantisipasi kemacetan panjang. Sebagai salah satu destinasi wisata yang pasti dijejali pengunjung setiap libur Lebaran, seharusnya aparat kepolisian setempat bisa mengantisipasi dengan menyediakan jalur alternatif atau gunakan skema satu arah agar kejadian serupa tidak terjadi setiap tahunnya.

Firman Luqmanulhakim, Wartawan Lampung Post



Berita Terkait



Komentar