#nuansa#sangwaktu#AbdulGafur
Nuansa

Sang Waktu

( kata)
Sang Waktu
Ilustrasi Pixabay.com

SYAHDAN, tersebutlah sebuah kota bernama Talmut. Kota ini dipimpin oleh seorang ratu nan cantik, Tahmina. Namun, di balik keindahan Talmut, tersimpan pusaka sakti digger of time. Pengguna pusaka ini konon akan kekal abadi dan mampu mengendalikan waktu.

Talmut pada akhirnya jatuh ke tangan Raja Persia. Dastan, sang putra mahkota, pun berhasil menyingkap keberadaan digger of time. Namun, bermain main dengan alur waktu membawa konsekuensi besar, karena Dastan harus berhadapan dengan makhluk-makhluk mistis dari dimensi lain.

Cerita itu tentu bukanlah kenyataan. Ia merupakan mitos yang kemudian oleh Ubisoft, salah satu vendor game, digubah menjadi permainan pertualangan Prince of Persia, The Sands of Time. Game ini memiliki penggemarnya sendiri hingga pada akhirnya diangkat ke layar lebar oleh Walt Disney pada 2010 silam.

Menaklukkan sang waktu memang selalu menjadi tema menarik. Jika Prince of Persia berupaya menaklukan waktu lewat pisau berkekuatan mistik, produser kawakan Steven Spielberg mengemasnya dalam sains fiksi Back to Future (1985). Film ini menarik perhatian publik dan meraup keuntungan besar juga bertabur penghargaan pada masanya.

Dalam dunia komik, Justice League: The Flashpoint Paradox mengisahkan The Flash, manusia penguasa kecepatan, melakukan perjalanan waktu demi menyelamatkan ibunya. Namun, perjalanan itu menuai sebuah konsekuensi rumit dari waktu yang bersifat paradoks. The Flash harus gigih berusaha mengembalikan keseimbangan sang waktu.

Dari semua itu, ada satu hal yang lebih menarik. Perjalanan Isra dan Mikraj Nabi Muhammad saw yang amat sukar dipahami di zaman Jahiliah namun menjadi amat memungkinkan jika dibedah oleh sains modern. Dosen Fisika Institut Pertanian Bogor (IPB), Husin Alatas, dalam wawancara bersama Republika menyatakan ada banyak teori sains modern yang dapat disodorkan untuk membedah fenomena itu.

Ada pula yang menafsirkan Isra dan Mikraj merupakan fenomena yang dialami Rasulullah sebagai perjalanan lintas ruang dan waktu (time travel) karena dalam perjalanan ini Sang Nabi diajak melihat surga dan neraka di masa depan.

Peraih penghargaan dari Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia ini mengemukakan teori relativitas, fisika partikel, hingga dimensi ekstra dapat dikemukakan untuk mengungkap fenomena Isra Mikraj.

Menurutnya, sains modern dapat menjelaskan hal itu sebagai fenomena yang amat memungkinkan terjadi dengan beragam teori fisika paling mutakhir. Namun, keterbatasan penguasaan teknologi atau sains terapan saat inilah yang belum bisa menjelaskan hal itu secara praktis.

"Kita tidak bisa tahu mekanisme atau cara pastinya perjalanan Isra Mikraj tersebut seperti apa. Kita hanya bisa membahasnya mungkin atau tidak. Dan, itu sangat mungkin," kata pakar biofisik, optik, dan fisika teori ini. Wallahualam bisawab.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar