#nuansa#sang-raja#durian#the-king-of-fruit

Sang Raja

( kata)
Sang Raja
Ilustrasi - Medcom.id.

Delima Natalia Napitupulu

Wartawan Lampung Post

ANDAI durian tidak mengeluarkan wanginya, tak ada seorang pun yang ingin mengecapnya. Pastilah semua menduga luarnya saja berduri, apalagi dalamnya. Durian mengajarkan bahwa untuk mendapatkan manisnya hidup, kita harus melewati duri-duri kehidupan.

Demikian salah satu kutipan ilustrasi tentang durian dan kehidupan. Kali ini, bukan tentang kehidupan yang akan saya bahas, melainkan the king of fruit alias raja dari segala buah itu.  

Durian memang fenomenal. Buah musiman itu menjadi favorit hampir semua orang. Suatu ketika, saya mem-posting status. Isinya "pengen ikut lomba makan duren, tapi siapa yang mau ngadain ya?". Status receh itu ternyata disambut ramai teman-teman di dunia maya. Kebanyakan dari mereka menyatakan kesukaan yang amat sangat pada durian.

Suatu penelitian menyatakan setiap 100 gram biji durian mengandung 67 gram air, 28,3 gram karbohidrat, 2,5 gram lemak, 2,5 gram protein, 1,4 gram serat, serta memiliki nilai energi sebesar 520 KJ. Buah lezat itu juga mengandung fosfor kalsium, kalium, vitamin C, vitamin B2, serta vitamin B1.

Sepertinya, tidak banyak buah nikmat yang kaya nutrisi macam durian. Hebatnya, selain enak dan bergizi, daging buahnya bisa diolah menjadi berbagai kudapan seperti dodol hingga difermentasi menjadi tempoyak.

Penyuka durian tentu memiliki cara berbeda dalam menikmati buah berbau khas itu. Bagi saya, menikmati durian haruslah dilakukan secara komplet. Dimulai dengan memilih durian. Saya akan memilih yang durinya masih segar. Kemudian, sambil memejamkan mata, saya mendekatkan durian ke hidung untuk mendeteksi keharumannya. Pilihlah buah dengan wangi yang paling kuat. Itu salah satu garansi mutunya.

Setelah itu, dilanjutkan dengan menawar. Bagian ini gampang-gampang susah karena biasanya buah ini tetap dibanderol relatif mahal meski sudah memasuki puncak panen. Lanjut, membelah durian. Ini adalah salah satu fase kenikmatan. Durian memberi panduan membelah melalui garis-garis di kulitnya. Tenaga yang dikeluarkan untuk membelah durian akan terbayar lunas, bahkan surplus, dengan nikmatnya daging buah.

Saya bersyukur terlahir di Lampung yang terkenal sebagai penghasil durian. Belakangan, pemerintah daerah makin gencar mendukung agrowisata berbasis durian. Sebut saja wisata durian di Suban 2, Desa Suban, Kecamatan Merbaumataram, Lampung Selatan, yang kini hit.

Di Lampung Utara, pemda setempat mendukung konservasi durian lokal dengan mendaftarkan 14 varietas durian ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian. Beberapa varietas tersebut yakni ceri, merah/pink, koplak, kepet, buaya, jelunjur, nanas, dan nangka.

Upaya pemda patut diacungkan jempol. Hal itu menunjukkan kepedulian terhadap petani durian. Namun, upaya tersebut mestinya terus digenjot hingga membentuk brand yang gemanya hingga seantero Nusantara. Macam duren ucok dari Medan yang namanya sudah amat dikenal.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar