#NUANSA#SEJARAH#OBITUARIUM

Sang Mutiara

( kata)
Sang Mutiara
Para tahanan di Bukit Duri sedang beraktivitas di luar kamar. (Foto Medcom.id/ Agustinus Shindu Alpito)


MUTIARA di Padang Ilalang itu judul buku yang ditulis oleh penulis dan penyintas 1965, Tedjabayu Sudjojono yang meninggal pada, Kamis(25/2/2021) di Jakarta. Saya segera bertungkus lumus di depan layar komputer kantor. Mengumpulkan informasi yang berserakan di dunia maya dan memilah-milahnya untuk catatan di kolom Nuansa ini.

Cling! Terbentanglah aneka informasi di hadapanku. Kisah, obituarium, kesan dan kenangan, dan memoar tentang sosok Tedjabayu Sudjojono. Pada laman Historia.id dengan judul Ç'est la vie, Tedjabayu! ada informasi bahwa Tedjabayu lahir pada 3 April 1944 di Jakarta. Kedua orang tuanya, Sudjojono dan Mia Bustam, sama-sama pelukis dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Nama Tedjabayu diberikan oleh Mia Bustam yang terinspirasi kisah Jawa Kuno, Sri Tanjung.

Lahir dari ayah dan ibu yang berideologi kiri membawa Tedjabayu muda ke haluan sama. Karena perkara komunis itulah, maka ia harus mendekam penjara ketika rezim Orde Baru berkuasa. Bersama ratusan orang lainnya, ia adalah alumni Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer, Hersri Setiawan, Oei Tjoe Tat, dan Tedjabayu Sudjojono adalah sejumlah nama alumni Pulau Buru.

Tedjabayu dalam kesehariannya adalah penyintas 1965 yang menyukai humor. Berbeda dengan alumni Pulau Buru lainnya yang rata-rata murung dan emosional, Tedjabayu tidak. Ia begitu tenang menyikapi semua masalah kehidupannya. Inilah orang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan dan memiliki sensibilitas tinggi terhadap humor. 

Soal judul di laman Historia.id yang berasal dari bahasa Prancis, ada kisah tersendiri. Di Kodim Jakarta Barat, tempat Tedjabayu dan kawan-kawannya dilepaskan, ia melihat sang ibu mengenakan jarit menjemputnya. Tedjabayu mengira ibunya akan menangis cengeng karena kembali bertemu si anak sulung yang 14 tahun tak pulang setelah berpamitan mengamankan gedung Ureca. Tetapi ia salah.

“Ya ini hidup, Dja! Gitu. Bahasa Prancis dia bilang: Ç'est la vie, Dja!” kenang Tedjabayu. Kehidupan memang seperti itu. Terpulang kepada orang memandangnya. Bisa keras, pahit, tapi juga manis.

Andreas Harsono, jurnalis senior sekaligus aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga Sahabat Almarhum Tedjabayu menuliskan kesan mendalam tentang sahabatnya itu.

"Tedjabayu adalah orang sudah berdamai dengan masa lalu. Dia sehat jiwa dan raga. Dia rendah hati, suka dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dia siap ketika diajak sekelompok wartawan untuk lawan sensor dan intimidasi Orde Baru. Dia ikut membuat organisasi bawah tanah, bekerja dengan puluhan wartawan profesional, yang tidak bisa memuat berita mereka di surat kabar masing-masing, lantas disalurkan ke organisasi ini," tulis Andreas melalui percakapan WA, Jumat(26/2/2021).

Kini, orang baik itu pergi untuk selamanya.  Adios, Sang Mutiara.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar