#sampah

Sampah Mengangkut Sampah

( kata)
Sampah Mengangkut Sampah
Bak truk bolong di semua sisi namun dipaksa untuk tetap beroprasi. MTVL/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Ketua Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung, Yuhadi, menuding permasalahan sampah yang terjadi di Bandar Lampung merupakan kesalahan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat.

Menurutnya, Kepala DLH Kota Bandar Lampung yang saat ini dijabat oleh Sahriwansah tidak mampu menerjemahkan ide dan gagasan Wali Kota Eva Dwiana.

Baca juga: Sampah Tak Tertangani, Warga Ancam Laporkan DLH ke Ombudsman

“Masalah sampah itu akan terus ada, karena Kepala DLH Kota Bandar Lampung yang nggak benar. Dia (Sahriwansah) sudah beberapa kali dipanggil oleh DPRD tapi terus mangkir dengan mengirimkan perwakilan tenaga honorer,” kata dia saat ditemui Lampost.co di ruangan kerjanya, Kamis, 10 Juni 2021.

Ketua DPD Fraksi Golkar yang kerap kali diabaikan panggilan teleponnya oleh Kadis LH itu berharap adanya evaluasi yang dilakukan Wali Kota Eva Dwiana kepada Sahriwansah agar ke depannya Bandar Lampung mampu menyabet kembali piala Adipura.

“Kepala DLH sekarang tidak mampu mngimbangi kinerja Bunda (Eva Dwiana) yang sudah sangat luar biasa. Banyak putra-putra terbaik daerah yang siap untuk mengabdi sebagai kepala OPD, kalau sudah bosan silahkan mundur Sahriwansah itu,” ujarnya.

Selain ketidak-becusan Sahriwansah, Yuhadi mengatakan adanya armada tak layak namun masih dipaksa beroperasi merupakan dampak dari refocusing dana yang hampir dua tahun ini terjadi akibat Pandemi Covid-19.

“Tapi kalau sudah tahu anggaran kurang bahkan hanya untuk perbaikan kendaraan saja tidak ada, Kepala DLH harus punya terobosan. Misalnya memanfaatkan CSR perusahaan rekanan pemkot Bandar Lampung seperti PT Bukit Asam, Nestle, dan Citraland,” kata dia.

Citraland itu jangan diam-diam saja, lanjut Yuhadi. Salah satu penyebab terjadinya bencara banjir dan longsor di Kota Bandar Lampung adalah pembangunan yang dilakukan oleh Citraland secara membabi-buta. Bukit dikeruk, lembah ditimbun, tapi dinilai tidak ada kontribusinya untuk Ibu Kota Provinsi Lampung ini.

“Citraland jangan hanya minta buka-buka lahan tapi tidak ada timbal baliknya ke Kota baik pemrrintahnya dan juga warganya. Kalau kepala DLH mengerti itu, minta CSR Citraland untuk bantu ganti armada-armada rongsok yang dipaksa beroperasi,” ujarnya.

Sementara Pengamat Tata Kota, Ilham Malik mengatakan bahwa ada dua permasalahan yang selalu terjadi bahkan sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Jadi ada dua masalah, yang pertama jumlah armada yang masih kurang dan kedua kualitas armada yang juga sangat kurang. Teknologi yang kita punya sekarang kalah jauh dengan kota-kota besar lain,” kata dia.

Ilham mengatakan model angkutan milik DLH Kota Bandar Lampung masih menggunakan bak terbuka, metode itu sudah mulai ditinggalkan oleh kota-kota besar seperti Surabaya dan Semarang dimana kota-kota itu sudah memakai truk sampah yang cukup modern.

“Surabaya itu truk sampahnya kalau sudah masuk truk sampah, sampah itu sudah langsung di pres atau dipadatkan. Jadi nggak akan jatuh-jatuh di sepanjang jalan dari TPS ke TPA,” ujarnya.

Pengamat Tata Kota yang cukup akrab dengan Kepala DLH Kota Bandar Lampung itu juga mengatakan bahwa Pemkot melalui Eva Dwiana harus mampu melakukan pendekatan secara persuasif kepada perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di wilayahnya.

Dengan kemampuan pendekatan persuasif yang dimiliki Wlikota wanita pertama itu, Ilham optimis bahwa perusahaan-perusahaan melalui CSRnya akan membantu memberikan jalan keluar atas kerusakan armada angkutan milik DLH.

“Kalau mengenai anggaran, saya akui bahwa saat ini Pemkot Bandar Lampung sedang mengalami sedikit kesulitan anggaran, tetapi juga bisa memberdayakan CSR perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya seperti gudang besar untuk dipersuasi membantu pemkot,”

“Minta mereka untuk membeli langsung kendaraan atau armada sesuai dengan yang dibutuhkan, jadi mekanismenya bukan meminta dana tapi meminta unitnya langsung,” kata dia.

Winarko







Berita Terkait



Komentar