#refleksi#taliban

Saling Bunuh

( kata)
Saling Bunuh
Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post. (DOK)


POLITIK luar negeri Indonesia bebas aktif. Itulah yang dikumandangkan Presiden Soekarno ketika memimpin negeri ini sehingga disegani pihak kawan dan lawan. Bahkan, bersama pemimpin di dunia, tokoh proklamator itu mendirikan organisasi bernama negara nonblok—yang tidak memihak kepentingan blok barat dan blok timur.

Padahal saat itu, sudah ada Badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang menjaga perdamaian. Negara di dunia segan terhadap Indonesia sejak terbentuknya nonblok hingga sekarang. Buktinya, Indonesia diminta PBB masuk kontingen menjaga perdamaian di negara berkonflik.

Bagaimana sikap Indonesia terhadap kemenangan Taliban yang nyata-nyata mengambil alih pemerintahan Afghanistan? Sesama negara muslim, negeri ini tetap berkiblat pada politik bebas aktif. Indonesia tidak akan mencampuri urusan dalam negeri suatu negara yang sedang berkonflik.

Jika diminta menjaga perdamaian, bersama PBB dengan tentara negara lain, pasukan Merah Putih dengan sukacita membantu. Banyak contoh. Tentara perdamaian Indonesia selalu diterima negara berkonflik. Seorang jenderal polisi—yang dikirim untuk menjaga perdamaian—berucap bahwa Indonesia selalu diterima. “Indonesia itu sangat ramah,” kata jenderal itu.

Bagi Indonesia, kemenangan Taliban menjadi kewaspadaan karena negeri ini merajut berpuluh-puluh tahun cinta damai dalam bingkai keberagaman. Banyak video bernarasi provokasi dalam media sosial menyebut kelompok agama di sini bisa seperti Taliban. Sebab, bisa mengalahkan Amerika!

Pengamat militer, Susaningtyas Kertapati, menyebut kondisi di Afghanistan saat ini telah menjadi justifikasi bagi gerakan terorisme di Indonesia. Aksi kemenangan Taliban membangunkan sel-sel tidur di negara ini. Pokoknya sesama radikal memiliki satu semangat yang sama,” jelas dia dalam diskusi daring yang digelar Medcom (grup Lampung Post), Minggu (5/9).

Dalam penelitian, ditemukan banyak lembaga pendidikan yang mengarah pada paham Taliban. Ini tecermin dengan keengganan untuk menghormati bendera Merah Putih maupun memasang foto presiden. Padahal sekolah itu—tempat pabrik yang memproduksi calon pemimpin bangsa.

Seperti kata jenderal polisi tadi juga, Indonesia tidak hanya perlu wait and see dalam mengambil keputusan—bersikap atas penggulingan kekuasaan oleh Taliban. Namun, harus meningkatkan kewaspadaan. Meski Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah bertemu dengan Taliban di Doha, Qatar, situasi di Afganistan masih memungkinkan untuk berubah.

Indonesia tidak boleh lengah! Indonesia harus bisa melakukan komunikasi dan operasi intelijen. Kepemimpinan Taliban kali ini berbeda dibanding dengan periode 1996—2001, yang tidak menyurutkan semangat terorisme.

Paham radikalisme, bukan masalah hitung-hitungan, melainkan soal keyakinan. Sebab, keyakinan itu tidak bisa dimatikan, tidak bisa dibungkam. Gaya ideologi Taliban jilid II ini harus diwaspadai. Jangan sampai lalai.

Kewaspadaan tingkat tinggi perlu disemangati. Tugas Densus 88 Antiteror, Badan Intelijen Negara (BIN), dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) guna mendeteksi gerakan terorisme. Sehingga, paham radikalisme tidak seperti jamur yang tumbuh subur di musim hujan. Hari ini Taliban sudah membangunkan sel-sel tidur tadi.

Taliban terbentuk sejak periode 1990-an. Ini salah satu kelompok garis keras yang berpengaruh dalam sejarah Afganistan. Di dalam dua dekade, Amerika mencoba membentuk pemerintahan baru di Afganistan, tetapi selalu gagal. Taliban tetap mempertahankan pengaruhnya, dan pada Senin, 16 Agustus 2021, berhasil mengambil alih negara.

***

Dalam pergolakan, pemerintahan Taliban digulingkan oleh Amerika Serikat karena dituduh melindungi pemimpin Al Qaeda, OsamaBin Laden, yang juga mendalangi serangan terhadap menara kembar WTC, New York, pada 11 September 2001. Banyak rakyat Amerika tewas akibat reruntuhan bangunan tersebut. Oleh karena itu, Amerika melakukan invasi pada Oktober hingga November 2001.

Luar biasa sekali dengan kekuatan penuh, Taliban langsung keluar dari ibu kota Afganistan, Kabul. Sejak itulah, Amerika bersama sekutunya menata Afganistan sekaligus membantu menjaga keamanan negara.

Belakangan, Amerika lelah. Taliban berunjuk gigi. Pada Mei 2021, pasukan Amerika mulai menarik diri dari Afganistan. Penarikan pasukan dan sekutu—membuat Taliban kembali memberontak terhadap pemerintah yang sah. Akibatnya ribuan penduduk Afganistan, termasuk Presiden Ashraf Ghani, serta kaum wanita mengungsi bahkan melarikan diri ke luar negeri.

Yang jelas, kekacauan dan beberapa kali bom bunuh diri di Afganistan bertanda negara tersebut belum mampu mengatasi kekacauan. Krisis kali ini juga hanya bisa diatasi oleh warganya. Pemerintahan baru Taliban sangat berat, terutama menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya.

Indonesia yang aman dan tenteram—bisa berkaca atas krisis di Afganistan. Kekacauan di negara mayoritas muslim itu menjadi bahan renungan bagi dalam negeri Indonesia.

Memperteguh Negara Kesatuan RI adalah harga mati. Itu wajib bagi warga negara. Jika tidak, Indonesia akan porak-poranda seperti negeri di Timur Tengah.

Iklim di Afganistan sangat berbeda dengan Indonesia. Taliban adalah sebutan untuk seorang santri, khususnya laki-laki. Kemudian, berkembang menjadi faksi politik dan agama ultrakonservatif pada pertengahan 1990-an. Mereka memberi nama dari keanggotaan sebagian besar siswa yang dilatih di sekolah agama. Ini sudah ada di Indonesia. Cara-cara seperti ini.

Sekali lagi, dari hasil penelitian menyebutkan banyak ditemukan sekolah di bumi Indonesia sudah berpaham seperti Taliban. Enggan melakukan upacara untuk menghormati Merah Putih. Waspadalah! Apalagi Taliban sudah mengumumkan pemerintahan barunya.

Taliban telah menjanjikan pemerintah inklusif yang akan mencerminkan susunan etnis di Afganistan. Namun, semua posisi teratas dikendalikan oleh pemimpin kunci dari jaringan Haqqani. Kelompok ini dikenal paling kejam dari Taliban karena serangannya yang menghancurkan.

Pemerintah baru akan bekerja keras menegakkan aturan Islam dan hukum syariah. Tidak satu pun dari pejabat pemerintah adalah perempuan. Saatnya posisi Indonesia terhadap Taliban harus berada di tengah. Mainkan politik luar negeri bebas aktif. Negeri ini bebas menentukan sikap serta kebijakan internasional, tidak mengikatkan diri pada kekuatan dunia mana pun.

Indonesia patut memberikan pencerahan untuk mengakhiri konflik. Penguasa di Amerika meramalkan terjadi perang saudara di Afganistan karena konflik yang tidak berkesudahan. Taliban harus membuka diri memberikan rasa keadilan bagi rakyatnya di pengungsian. Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi. Jadi berhentilah saling bunuh.

***

Winarko







Berita Terkait



Komentar