#mafiatanah

Saksi Mengaku Kembalikan Uang Rp17 Juta Upah Ukur Mafia Tanah

( kata)
Saksi Mengaku Kembalikan Uang Rp17 Juta Upah Ukur Mafia Tanah
Para saksi saat berada di persidangan. Lampost.co/Asrul


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Sidang kasus mafia tanah yang melibatkan oknum pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Bandar Lampung kembali digelar di PN Kelas IA Tanjungkarang, Senin, 18 April 2022.

Para terdakwa yakni honorer BPN Bandar Lampung Bidang Pemetaan, Aditya Novantri (34); ASN BPN Bandar Lampung yang menjabat sebagai Koordinator Yuridis PTSL, Jalis Damawi (37); dan Ujang Suryadi (41).

Sejumlah saksi dihadirkan di antaranya perwakilan BPN Bandar Lampung yang mengukur, dan juga saksi korban yang sempat diklaim sebagai tanahnya oleh terdakwa Ujang.

Saksi Reza selaku ASN BPN Bandar Lampung Bidang Pengukuran bersama dengan honorer BPN bernama Welly, mengaku diminta mengukur objek tanah yang diklaim terdakwa  Ujang sebanyak dua kali atas permintaan terdakwa Aditya Novantri.

"Saya mengukur dua kali, bulan Maret dan Juli 2021, hasilnya saya kasih ke Adit (terdakwa)," ujar saksi Reza di persidangan.

Namun ia mengaku ada yang janggal terhadap pengukuran tersebut, dan khawatir bermasalah. Reza pun meminta terdakwa Adit untuk membatalkan proses penerbitan sertifikat tersebut.

"Saya minta batalin aja," katanya.

Reza pun mengaku sempat diberi uang oleh Aditya senilai Rp14 juta atas perannya membantu pengukuran tanah yang diminta oleh terdakwa Ujang. Namun uang tersebut telah ia kembalikan ke Adit.

"Saya kembalikan karena dari awal saya pikir kok ini aneh, nanti ada masalah hukum," katanya.

Terdakwa Aditya pun membantah keterangan Adit soal dirinya yang mengembalikan uang Rp14 juta sebelum upaya tersebut bermasalah, dan ditangani Polresta Bandar Lampung.

"Jadi dia pulanginnya yang mulia, justru karena ini sudah bermasalah," kata terdakwa Aditya.

"Enggak yang mulia, saya dari sesudah pengukuran kedua sudah berulang kali nelpon dia, mau kembaliin, tapi kata dia nanti aja," kata Reza membantah keterangan Adit.

Selain Reza saksi Welly pun disebut oleh terdalwa Aditya menerima upah sebagai jasa pengukuran uang. Aditya mengaku memberikan uang Rp10 juta sebagai jasa pengukuran.

"Saya kasih Rp10 juta buat ngukur," katanya

Namun saksi Welly pun membantah penerimaan tersebut atas jasa pengukuran yang diminta Ujang Suryadi. Menurutnya hal tersebut adalah hutang piutang antara dirinya dengan Aditya.

"Sudah saya kembalikan juga itu Rp3 juta," katanya.

Disela-sela sidang pun, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eli Mustika menunjukan adanya pengembalian uang Rp17 juta ke Ketua Majelis Hakim Efiyanto. Total uang tersebut terdiri dari Rp14 juta dari Reza, dan Rp3 juta dari Welly.

Saksi lainnya yakni Affan alias Wadi selaku korban. Affan mengaku, tiba-tiba didatangi oleh terdakwa Ujang dan Aditya serta tim ukur. Ujang berdalih tanah milik Affan seluas 2.000 meter persegi masuk ke lahan Ujang.

"Padahal tanah saya enggak lebih, dia ngakunya cari tanah yang hilang," katanya.

Affan mengaku sempat diminta Ujang untuk membayar tanahnya yang diklaim masuk ke lahan Ujang. Berdasarkan pemahaman Affan, NJOP di tanah tersebut sekitar Rp1 juta per meter.

"Belum minta nominal secara spesifik sih," katanya.

Winarko







Berita Terkait



Komentar