#Mustafa#Korupsi

Saksi Kasus Mustafa Beberkan Kongkalikong Bayar Utang lewat Proyek

( kata)
Saksi Kasus Mustafa Beberkan Kongkalikong Bayar Utang lewat Proyek
JPU KPK menghadirkan lima saksi dalam perkara gratifikasi yang melibatkan mantan Bupati Lamteng Mustafa, Kamis, 18 Maret 2021. Lampost.co/Abu Umaraly


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan lima saksi dalam sidang lanjutan kasus korupsi dengan terdakwa mantan Bupati Lampung Tengah (Lamteng), Mustafa, di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungkarang.

Para saksi tersebut adalah Direktur CV Tujuh Tujuh Yusron Fauzi Saleh, ASN Inspektorat Lamteng Muhibatullah, Irwan Hanim, staf BPKAD Lamteng Ahmad Ferizal, dan Yusari Aris.

Dalam keterangannya, Muhibatullah menyatakan telah menyerahkan dana sebesar Rp2,1 miliar kepada mantan Kepala Dinas (Kadis) Pekerjaan Umum (PU) Lamteng, Taufik Rahman. Dia mengaku tidak pernah membicarakan bersama Taufik Rahman soal ijon proyek atau soal pinjaman di PT SMI.

Baca: Nunik Bantah Terima Rp1 Miliar dari Mustafa

 

"Waktu itu saya ketemu Taufik setelah rapat di Pemda. Dia berkata tolong pinjaman dana di 2017 karena ada keperluan mendesak sekitar Rp2 miliar," kata dia menjawab pertanyaan JPU KPK Taufiq Ibnugroho, Kamis, 18 Maret 2021.

Namun setelah didesak JPU, akhirnya Muhibatullah mengakui ada kesepakatan jika tidak mampu mengembalikan uang pinjaman itu maka akan diganti dengan kegiatan proyek.

"Tapi secara spesifik tidak disebutkan proyek apa," kata dia.

Muhibatullah mengatakan berhasil mendapatkan dana tersebut dari sejumlah sanak keluarganya. Uang diserahkan di dalam rumahnya melalui Rusmaladi, bawahan Taufik Rahman.

"Tapi sampai sekarang saya tidak mendapatkan pekerjaan itu dan saya sempat minta Taufik agar uangnya dikembalikan," ujarnya.

Sementara saksi Yusrol Fauzi Saleh mengaku baru akan mengikuti lelang proyek pekerjaan di Lamteng pada 2018 dan gagal. Padahal, dia sudah menyetorkan dana sebesar Rp3 miliar sebagai komitmen fee.

Dia mengaku tertarik dalam proyek pembangunan atas ajakan Indra Arilangga, rekannya dalam komunitas pecinta sepeda motor.

"Waktu itu disebutkan komitmen fee berkisar 17-20 persen dari total nilai pekerjaan," kata Indra.

Setelah terjadi kesepakatan, akhirnya saksi menyerahkan dana Rp1 miliar pada November 2017 kepada Indra. Lalu dilanjutkan pada Januari 2018 kembali memberikan dana Rp2 miliar di Bukit Randu. Totalnya Rp3 milyar dengan range proyek Rp15 miliar.

"Setahu saya uang ini diserahkan ke Kadis PU guna keperluan Bupati. Ini info yang saya dapat dari Indra," katanya.

Tetapi realisasi proyek yang dijanjikan tak terwujud karena pada Februari 2018 KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Dia juga pernah meminta agar uangnya dikembalikan namun setelah mendapat penjelasan dia mengaku pasrah. 

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar