#Hidroponik#beritalampung

Saat Pakcoy Berselancar di Jagad Maya

( kata)
Saat Pakcoy Berselancar di Jagad Maya
Setiaji Bintang Pamungkas menunjukkan sayuran hidroponik miliknya di lantai dua rumah orang tuanya di Perumahan Bataranila, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. (Foto: Istimewa)


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Hidroponik yang sempat naik pamor, ternyata juga terlibas virus corona. Sayur hidroponik adalah tanaman hasil bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Sayuran tersebut ditanam pada medium air berisi zat hara yang mampu memberikan kesuburan. Air yang digunakan tersebut dapat didaur ulang melalui sistem tertentu. Dengan demikian, sayuran hidroponik membuat petani lebih hemat dari segi pemakaian air. 

Aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Hidroponik sempat bergeliat untuk memenuhi kebutuhan sayuran yang bebas pestisida ini. Namun di kala pandemi Covid-19 ini, sejumlah pelaku UMKM Hidroponik mengalami kemerosotan penjualan. 

Hasil dari penjualan berbagai jenis sayuran hidroponik menurun cukup drastis. Usaha hidroponik rumahan ini terkena imbas dari adanya pandemi Covid-19 ini dengan berkurangnya pembeli atau pelanggan, tak ayal pendapatan pun berkurang. Ibu-ibu rumah tangga dari komplek perumahan pun semakin berkurang untuk membeli sayuran hidroponik ini. Begitu juga juga dengan pemilik rumah makan, tidak lagi membeli sayuran segar hidroponik ini lantaran rumah makan itu pun gulung tikar terimbas pandemi. 

Mengetahui kondisi ini, para pelaku UMKM hidroponik memutar otak untuk tetap bertahan demi mengembangkan usahanya. Mulai dari memasarkan produk sayuran hidroponik dari teman ke teman hingga gencar memasarkannya lewat media sosial Instagram maupun Facebook. 

Sebelum pandemi strategi penjualan menggunakan media sosial Instagram dan Facebook dengan mempromosikan berbagai produk dan kegiatan di lokasi kebun hidroponik ini belum gencar dilakukan atau tidak terlalu intensif. 

"Sebelum pandemi strategi ini diterapkan, tapi tidak terlalu intensif. Ketika pandemi, strategi promosi di medsos mulai digencarkan," kata salah satu pelaku UMKM Hidroponik, Setiaji Bintang Pamungkas (28), Rabu, 13 Januari 2021. 

Setiaji menjelaskan, ia menggeluti budidaya sayuran hidroponik ini sejak awal tahun 2019 dengan nama produknya Ingreen. Alumnus Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Lampung ini pun memilih menggeluti pengolahan sayuran hidroponik karena bisa memanfaatkan lahan yang sempit di lantai dua rumah kediaman orang tuanya di Perumahan Bataranila, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Budidaya sayuran hidroponik pun tergolong mudah perawatannya dan juga bersih. Sayuran yang ia tanam dan dijual seperti pakcoy, caisim, kailan, pagoda, bayam, selada maupun kangkung. 

Namun usahanya terganggu karena terdampak pandemi. Produksi sayuran hidroponik terganggu karena sayuran tidak terjual habis dan mempengaruhi biaya produksi. Sebelum pandemi, hasil penjualan sayuran hidroponik cukup baik. 

Ia mengungkapkan, sebelum pandemi melanda penghasilan yang didapatkan dari berbagai penjualan sayuran hidroponik ini mencapai Rp900 ribu per bulan. "Saat pandemi hanya Rp400-500 ribu per bulan," kata Setiaji. 

Nasib yang sama pun dialami oleh Meza Yupita Sari (29) yang memiliki brand Selabung Hidroponik dengan memproduksi sayuran selada, daun mint, dan pakcoy. Penurunan pendapatan dari hasil penjualan sayuran hidroponiknya cukup besar. Sebelum pandemi, hasil dari penjualan sayuran hidroponik seperti selada, pakcoy, dan daun mint mencapai angka Rp4 juta. Namun disaat pandemi ini hanya Rp1,5 juta hingga Rp2 juta. 

Penurunan pendapatan ini terjadi karena permintaan pun menurun. Penurunan permintaan terjadi karena rumah makan atau cafe yang biasa membeli sayuran hidroponik miliknya pun tutup. 

Meza menceritakan, sejumlah rumah makan yang menjadi langganannya tersebut membeli sayuran hidroponik selada miliknya. Namun karena sejumlah rumah makan ini pun tutup terimbas pandemi sehingga tak lagi membeli selada miliknya. Begitu juga dengan daun mint yang dipasarkan di Chandra Department Store, salah satu pusat perbelanjaan cukup besar di Lampung. Namun daun mint yang manfaatnya bisa dikonsumsi dan sebagai penghias minuman ini pun tetap saja permintaannya menurun. Permintaan akan kebutuhan sayuran pakcoy pun menurun. Menurut Meza, walaupun pangsa pasar pakcoy ini hanya untuk ibu-ibu rumah tangga dan sejumlah tetangganya, permintaan pakcoy juga menurun. 

"Selama pandemi (permintaan) menurun 30-40 persen," kata Meza saat ditemui di kebun hidroponiknya yang beralamat di Gang Masjid, Jalan Panglima Polim, Kelurahan Sukamenanti, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung, Senin, 18 Januari 2021. 

Meza yang juga lulusan dari Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Universitas Lampung ini tidak terlalu banyak menanam atau melakukan pembibitan sayuran hidroponik. Di masa pandemi dengan peminat yang berkurang, dia tidak terlalu banyak melakukan pembibitan. Dalam proses pembibitan ini terdapat dua lokasi yang dijadikan sebagai media tanam. Di rumah orang tuanya tersebut terdapat dua lokasi yakni di lantai dua dengan ukuran 5 x 12 meter dan di pekarangan depan rumah dengan ukuran sekitar 5 x 8 meter. Ia pun memiliki satu lokasi lagi usaha sayuran hidroponik untuk mengembangkan usahanya yang berada di rumah saudaranya di Way Kandis, Bandar Lampung. 

Meza yang sudah bekerja di salah satu pabrik kopi di daerah Campang, Bandar Lampung ini pun menceritkan, selain mendapat penghasilan dari penjualan sayuran hidroponik miliknya, ia pun mendapatkan penghasilan tambahan dari jasa pemasangan instalasi untuk media tanam hidroponik. Jasa ini seperti perakitan atau pemasangan paralon dan lainnya. 

"Ya sebelum pandemi Alhamdulillah ada kawan atau dosen yang minta dibuatkan untuk merakit paralon hidroponik, tapi saat pandemi ini enggak ada satu pun," ungkapnya. 

Selama pandemi, Meza pun tetap menjalankan usahanya walaupun pendapatan tidak sesuai yang diharapkan. Ia pun mengubah strategi penjualan untuk sayuran hidroponiknya. Sebelum pandemi, Ia hanya cukup melakukan update status di Instagram saja, nanti ada saja yang membeli sejumlah sayuran hidroponik miliknya. Namun saat pandemi agar sayuran hidroponiknya laku terjual, ia mulai gencar melakukan promosi yang lebih kepada personal melalui media sosial WhatsApp. "Selama pandemi, marketing-nya dari teman ke teman lewat WA. Kalau sebelum pandemi, saya cukup update status saja di IG," katanya. 

 

Strategi Hidroponik agar Bertahan

Sejumlah pelaku UMKM hidroponik mengeluhkan berkurangnya pendapatan karena usahanya terdampak pandemi. Penghasilan dari penjualan sayuran hidroponik menurun karena pembeli pun berkurang. Kondisi ini yang menyebabkan para pelaku UMKM hidroponik enggan meminjam permodalan di perbankan. "Saya khawatir enggak bisa bayar angsuran di bank per bulannya karena pendapatan minim di pandemi ini," kata Setiaji. 

Menurutnya, meminjam modal di perbankan akan menambah beban utang juga mengganggu psikologi karena merasa tak tenang. Ujung-ujungnya dia jadi tak fokus bekerja dan dapat mempengaruhi performa kebun hidroponik. Namun walaupun kondisi seperti ini - pendapatan berkurang dan enggan meminjam permodalan di bank - Setiaji tetap bertahan dengan usaha hidroponiknya. "Investasi yang sudah dikeluarkan cukup besar sekitar Rp15 juta sehingga harus terus bertahan." 

Hal yang sama diungkapkan Meza. Dirinya yang mengolah kebun hidroponik sejak tahun 2017 dan dikomersilkan tahun 2019 ini tetap enggan meminjam permodalan di bank walaupun pendapatan minim saat pandemi ini. "Enggak mau minjem, ribet. Terus memikirkan bayaran per bulannya, apalagi pendapatan kan berkurang," ujarnya. 

Namun ia pun tetap bertahan untuk mengurus kebun hidroponiknya walapun sayuran ada yang tidak laku terjual dan pendapatan tidak sesuai yang diharapkan. "Insya Allah bertahan, karena ini hobi juga, sayang juga kalo enggak ditanami walaupun pemasukannya sedikit," kata Meza. 

Walaupun para pelaku UMKM hidroponik ini enggan meminjam permodalan di bank, namun sejumlah perbankan menggulirkan program untuk UMKM. 

Head of Secured Lending Retail & SME Bank Commonwealth Weddy Irsan menjelaskan, situasi pandemi Covid-19 saat ini memberikan pukulan berat bagi para pelaku UMKM diantaranya kesulitan mendapatkan bahan baku, kesulitan permodalan, dan lainnya. Di sisi lain, kinerja UMKM yang kurang begitu baik di masa pandemi bisa mengurangi kepercayaan lembaga keuangan seperti perbankan dalam pengucuran kredit padahal masih banyak UMKM yang belum mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan. Meski demikian, perbankan terus membuka peluang bagi UMKM melalui literasi dan inklusi keuangan.

Perbankan membuka kesempatan selebar-lebarnya dan Bank Commonwealth memberikan solusi bagi UMKM terkait dengan persoalan pembiayaan melalui literasi dan inklusi keuangan. Hal ini harus dijalankan berbarengan agar UMKM bisa mendapatkan pembiayaan dan juga makin berkembang. 

Perbankan, kata Weddy, punya kiat untuk menyelamatkan nafas pelaku UMKM. Yang terutama dengan pemanfaatan teknologi. Dengan memanfatkan teknologi digital untuk menjangkau lebih banyak pelaku UMKM, Bank Commonwealth berupaya menerapkan literasi sekaligus juga inklusi keuangan terhadap pelaku UMKM. 

Dalam menjalankan literasi keuangan, Bank Commonwealth melalui program WISE (Womenpreneur Indonesia for Sustainability and Empowerment) menggandeng Bukalapak memberikan kelas edukasi keuangan untuk komunitas UMKM Srikandi Bukalapak, hingga Desember 2020 sebanyak 60 ribu pebisnis UMKM telah teredukasi melalui kelas WISE bersama Bukalapak. 

"Kami melakukan edukasi keuangan misalnya bagaimana menjaga cashflow dengan lebih baik lagi apalagi di masa pandemi seperti ini banyak pebisnis yang cashflow-nya kurang terjaga akibat modal yang terbatas dan pendapatan yang menurun," jelas Weddy.

Selain itu, Bank Commonwealth juga menggandeng MasterCard dan Mercy Corps Indonesia untuk membantu pengusaha UMKM Indonesia mendorong pertumbuhan bisnis UMKM melalui pendampingan secara digital dengan platform MicroMentor. Hingga Desember 2020, lebih dari 4.000 mentees atau pelaku UMKM bergabung di platform MicroMentor. Dalam tahun pertamanya, program ini sudah berhasil menciptakan 1,158 pekerjaan baru bagi pelaku UMKM di platform ini.

Dari sisi inklusi keuangan, Bank Commonwealth membangun ekosistem digital untuk mendukung perkembangan UMKM melalui pemberian pinjaman secara online yang berkolaborasi dengan platform merchant digital serta mendukung kemudahan bertransaksi di masa pandemi dengan solusi layanan perbankan digital. Bank Commonwealth juga menjalankan program relaksasi kredit UMKM yang terdampak pandemi secara digital tanpa perlu tatap muka langsung.

Weddy juga menambahkan, di masa pandemi ini UMKM masih tetap bisa mendapatkan pembiayaan dari Bank, kriteria yang diterapkan Bank di antarannya adalah perizinan lengkap, laporan keuangan, dan prospek bisnis yang baik. "Jika kriteria tersebut dipenuhi lengkap, Bank akan dengan mudah mengucurkan pembiayaan," tutup Weddy.

 

Ingreen Kukuh Bertahan

Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin ini yang dirasakan oleh Setiaji yang mengelola usaha sayuran hidroponik dengan produknya bernama Ingreen. Setelah pembeli sayuran hidroponiknya berkurang karena pandemi, sayuran yang ditanam pun terkena hama saat dipanen sehingga tak layak jual. 

Setiaji menceritakan, setiap kali panen sayuran hidroponik memang ada sebagian sayuran yang terserang hama, yakni ulat dan kutu daun. Setiap kali panen ada sekitar 10 persen sayuran yang terkena hama yang menyebabkan daun menjadi rusak sehingga tak layak jual. "Itu paling minim (10 persen), kalau parah bisa 30-40 persen," ungkapnya. 

Sejumlah sayuran yang terkena hama tersebut pun hanya tidak layak jual, namun tetap layak dikonsumsi. Sejumlah sayuran yang tak layak jual tersebut diberikan kepada tetangganya. Sehingga dengan kondisi ini, ia pun mengalami kerugian ditambah dengan pembeli yang berkurang karena pandemi. 

"Banyak yang enggak layak jual dan pembeli berkurang karena pandemi. Hama merusak tanaman, kalau pandemi orang-orang mengurangi belanja sayuran hidroponik yang relatif lebih tinggi harganya dibanding sayuran biasa," ujarnya mengisahkan kondisi yang dialaminya saat ini. 

Kisah lainnya, Setiaji memiliki sejumlah pelanggan ibu-ibu komplek perumahan yang sering berbelanja sayuran hidroponik dengannya. Namun lagi-lagi, ibu-ibu rumah tangga tersebut pun mengurangi belanja sayuran hidroponik miliknya. Menurut Setiaji, harga sayuran hidroponik memang sedikit lebih mahal dari pada harga sayuran di pasar tradisional. Harga sayuran hidroponik sedikit mahal dikarenakan lebih segar dan kebersihannya. 

Ia mencontohkan, harga satu ikat kangkung di pasar tradisional Rp1-2 ribu, namun harga sayuran kangkung hidroponik mencapai Rp5 ribu. Begitu pula dengan harga satu ikat bayam di pasar tradisional Rp5 ribu, namun untuk sayuran bayam hidroponik mencapai Rp7-8 ribu. "Pelanggan ibu-ibu perumahan berkurang, mungkin mereka saving budget juga karena sayuran hidroponik lebih mahal," ungkapnya. 

Walaupun mengalami kondisi sulit seperti ini, sayuran hidroponik dengan nama produk Ingreen tetap ingin bertahan. Segala cara dilakukan Setiaji agar sayuran hidroponik yang sudah dipanen laku dijual, salah satunya gencar melakukan promosi di sosial media. "Saya mencoba lebih sering mem-posting story Instagram untuk menunjukkan eksistensi dan menampilkan berbagai kegiatan di kebun (hidroponik) kami," katanya.  

Selanjutnya bagi pembeli diperkenankan untuk membuat story atau testimoni. "Kemudian kami repost di story Instagram kami dan dimasukkan ke fitur sorot sebagai display. Selain itu, sempat mencoba membuat konten di Youtube edukasi dan aktivitas di kebun," jelasnya. 

Demikian juga dengan Facebook yang langsung tertaut dengan akun Instagram. Jadi apapun yang dipromosikan di story Instagram akan muncul di Facebook. Kemudian membuat konten di Instagram agar konsumen dan calon konsumen tidak bosan dan mendapatkan edukasi terkait hidroponik. 

"Gambar yang di-posting di Instagram harus eyecatching dan harus melalui tahap editing menggunakan aplikasi edit foto. Postingan harus tepat sasaran seperti ke usia 30 tahun ke atas yang telah melirik sayur sehat bebas pestisida," katanya.

Cepat dan tanggap terhadap konsumen yang bertanya baik melalui direct message (DM) atau WhatsApp. Selain itu menanggapi komentar konsumen di feed Instagram dengan santun. "Kami juga memberikan promosi seperti beli empat gratis satu, gratis ongkir di waktu-waktu tertentu, semua informasi promo kita share di akun Instagram," ujarnya. 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar