#ciptaker#RUU

RUU Ciptaker Berpotensi Renggut Hak Buruh Perempuan

( kata)
RUU Ciptaker Berpotensi Renggut Hak Buruh Perempuan
Buruh perempuan menyelesaikan pembuatan masker di PT Jayamas Medica Desa Karangwinongan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Antara Foto/Syaiful Arif

Jakarta (Lampost.co) -- Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) menyebut Rancangan Undang-undang Cipta Kerja (Ciptaker) berpotensi merugikan hak buruh perempuan. Terutama seputar ketentuaan hak buruh perempuan ketika haid, hamil, hingga gugur kandungan.
 
Wakil Ketua KPBI Jumisih menyebut pasal 93 RUU Ciptaker mengatur pemberian upah bagi buruh yang tidak masuk kerja karena berhalangan. Namun, tidak ada penjelasan mengenai kata berhalangan.
 
"Dalam posisi seperti itu akan multitafsir sehingga membuat ketidakjelasan, itu yang memberatkan posisi kami sebagai buruh perempuan," ujar Jumisih dalam konferensi secara visual, Minggu, 3 Mei 2020.

Ia menyadari perempuan perlu mendapatkan perhatian lebih ketika mengalami haid, hamil, hingga keguguran. Kesehatan reproduksi menjadi hal yang harus diutamakan.
 
Dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjan sudah diatur perlidungan pekerja perempuan ketika mengalami kondisi tersebut. Namun, masih banyak pekerja perempuan yang tidak mendapatkan haknya.
 
"Banyak terjadi pelanggaran di lapangan pada buruh perempuan. Apalagi kalau tidak tercantum terkait dengan perlindungan hukum terkait dengan hak-hak buruh perempuan," tuturnya.
 
RUU Ciptaker juga berpotensi memberikan upah buruh dibawah upah minimum provinsi (UMP). Dalam aturan itu, upah buruh dihitung lama berdasarkan waktu bekerja.
 
Keadaan itu merugikan buruh yang sedang berhalangan hadir karena harus menyusui bayinya. Sehingga, upah buruh perempuan terpotong secara langsung.
 
KPBI menjadi salah satu organisasi yang menggugat surat presiden (supres) yang menyerahkan RUU Ciptaker untuk dibahas di DPR. Gugatan didaftarkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pada Kamis, 30 April 2020.
 

Medcom



Berita Terkait



Komentar