#rusiaukraina#beritainternasional

Rusia Tangkap Delapan Tersangka Ledakan Jembatan Krimea

( kata)
Rusia Tangkap Delapan Tersangka Ledakan Jembatan Krimea
Ledakan di Jembatan Kerch yang menghubungkan Krimea dengan Rusia. Foto: BBC


Moskow (Lampost.co) -- Rusia menahan delapan tersangka atas ledakan mematikan di jembatan yang menghubungkan Krimea dengan Negeri Beruang Merah. Hal itu disampaikan dinas keamanan Rusia (FSB) dalam sebuah pernyataan.

“Para tersangka termasuk lima orang Rusia dan tiga warga Ukraina dan Armenia,” sebut pernyataan FSB, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Baca juga: Rusia Hujani Ukraina Serangan Besar, 84 Rudal Telah Ditembakkan

"Bahan peledak disembunyikan dalam 22 gulungan film plastik seberat 22.770 kilogram," kata pernyataan itu, seperti dikutip AFP, Rabu 12 Oktober 2022.

Menurut FSB, gulungan berangkat dengan kapal pada Agustus dari Pelabuhan Odessa di Ukraina ke Bulgaria. Benda itu kemudian transit melalui Pelabuhan Poti di Georgia. Kemudian dikirim melalui darat ke Armenia sebelum tiba melalui jalan darat di Rusia.

FSB menambahkan, bahan peledak itu memasuki Rusia pada 4 Oktober dengan sebuah truk dengan plat nomor Georgia dan mencapai wilayah Krasnodar pada 6 Oktober, dua hari sebelum ledakan.

"Serangan teroris itu diorganisir dinas rahasia Ukraina, dengan agen Kyiv yang mengoordinasikan transit bahan peledak,” menurut FSB.

Pada Sabtu, sebuah ledakan merobek jalan dan jembatan rel yang menghubungkan Krimea ke Rusia. Ledakan ini menewaskan tiga orang, menyebabkan kerusakan dan memicu kebakaran besar. 

Jembatan itu secara logistik sangat penting bagi Moskow dan menjadi penghubung transportasi vital untuk memindahkan peralatan militer ke tentara Rusia yang bertempur di Ukraina.

Ini juga sangat simbolis, dengan Presiden Vladimir Putin secara pribadi meresmikan struktur tersebut pada 2018.

Ledakan itu memicu perayaan dari Ukraina. Rusia menyalahkan ledakan itu pada Kyiv pada Minggu dan pada Senin meluncurkan serangan rudal di seluruh Ukraina, menewaskan sedikitnya 19 orang dan melukai lebih dari 100 orang.

Pada Senin, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan tanggapan Rusia terhadap serangan Ukraina lebih lanjut akan berat.

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar