#kekerasananak#beritalampung#humaniora

Rumah Ramah Anak Beri Ruang Korban Kekerasan

( kata)
Rumah Ramah Anak Beri Ruang Korban Kekerasan
Petugas menunjukkan kamar WA di Yayasan Bussaina Rumah Ramah Anak Lampung, beberapa waktu lalu. LAMPUNG POST/ DIAN WAHYU KUSUMA

Bandar Lampung (Lampost.co): Naik kereta api, tut...tut...tut.... Siapa hendak turut, ke Bandung, Surabaya. Bolehlah naik dengan percuma. Ayo kawanku lekas naik, keretaku tak berhenti lama. WA, 18, menggendong bayi sekaligus menyanyikan lagu berjudul Kereta Apiku. WA baru 30 menit berada di Yayasan Bussaina Rumah Ramah Anak Lampung, Selasa, 7 Januari 2020 lalu.

Tapi, ia tampak akrab dengan balita di sana. Rumah Ramah Anak ini memiliki 15 balita. WA menjadi penghuni Rumah Ramah Anak Lampung mulai siang hari itu.

"WA masih sulit untuk berbicara. Ia menderita tunagrahita ringan," ujar Sutari Margayani, kabid Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Dinas PPA Pringsewu, saat mengantar WA ke Rumah Ramah Anak itu.

Sutari menuturkan, MoU telah ditandatangani pada Selasa, 7 Januari 2020 bersama Yayasan Bussaina, Rumah Ramah Anak Lampung. Yayasan ini, menurutnya, yang menjadi mitra pihak pemerintah untuk merehabilitasi korban kekerasan. Ia menilai WA membutuhkan penanganan khusus karena WA menderita tunagrahita ringan.

"Mou ditandatangani selama setahun, setelah itu akan dievaluasi tiap tiga bulan. Setelah satu tahun apakah mau dikembalikan ke pihak keluarga atau seperti apanya, nanti akan dibahas lagi," ujarnya.

Sutari berharap ada rumah ramah anak lainnya di Lampung. "LKS (Lembaga Kesejahteraan Sosial) ini punya plus-plus," kata Sutari. Ia harap Dinas Sosial Provinsi Lampung bisa lebih mengembangkan rumah ramah anak lagi karena lembaga sosial sudah banyak. "Tinggal pembinaan," ujarnya.

Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak mengikuti perkembangan kasus WA ini. Bahkan, Kak Seto sempat datang menjenguk WA ke Pringsewu.

Ia menuturkan sangat berterima kasih kepada satgas perlindungan anak di desa. Sebab, kasus bisa terungkap dari kecurigaan awal warga yang dibuktikan satgas di desa. "Ini artinya satgas di pekon (desa) berjalan, Pak Seno sebagai pelopornya," ujarnya.

Sementara itu, Turiman, kerabat WA, menuturkan pihak keluarga merasa terbantu dengan adanya rehabilitasi ini. Sebab, kondisi WA masih sulit diajak berbicara. "Sudah mending dibanding dengan tahun lalu, sekarang sudah mengerti kalau diajak bicara," katanya.

Tarseno dari Satgas Perlindungan Anak Merah Putih di Pringsewu menjelaskan pihaknya mengawal kasus WA sejak 2017 saat WA berusia 16 tahun. Namun, karena pelaku, yakni ayah dan dua saudara kandung WA telah divonis, maka perhatian saat ini dikhususkan kepada pemulihan kesehatan WA. Diketahui WA mendapat kekerasan seksual dari ayah dan dua saudara kandungnya. Kondisi WA saat ini tidak dalam kondisi hamil.

Ketua Yayasan Bussaina, Rumah Ramah Anak Lampung, Budi Hidayat, Minggu, 19 Januari 2020, menuturkan WA telah di-check up ke dokter. Hasilnya, kesehatan WA cukup baik.

"Karena setiap anak baru yang tinggal di sini akan dicek kesehatannya," ujarnya.

Pihaknya merehabilitasi balita dan anak korban kekerasan. Namun, ia harap ada lembaga lain yang memiliki visi yang sama untuk membantu para anak korban kekerasan. Budi ingin pandangan warga tentang lembaganya jangan dipandang sebelah mata. Atau malah, ada yang nyinyir dengan kehadirannya terhadap anak-telantar atau anak korban kekerasan. "Saya tidak ingin dianggap jadi pahlawan kesiangan," ujarnya.

Budi menuturkan, WA akan lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak di Rumah Ramah Anak. WA juga akan mendapat kegiatan rutin seperti senam pada Minggu pagi, kelas sanggar tari pada Sabtu sore, dan sebagainya.

Menurutnya, WA telah banyak perubahan usai sepekan berada di Rumah Ramah Anak. "Dia sudah mulai bertanya, ini kue buat siapa atau sendal saya di mana," kata Budi.

Ketua Forum Puspa Lampung Ari Darmastuti menilai 7 dari 15 kabupaten dan kota di Lampung saat ini sudah terbentuk kabupaten/kota Rumah Ramah Anak. "Program ini kan sekarang sudah 50%, maunya 2020 ada 75% kabupaten. Ini inisiatif kabupaten dan didukung provinsi. Provinsi Lampung layak anak belum bisa kalau kabupaten belum semua tercapai layak anak," kata Ari, dosen FISIP Unila itu.

Koordinator Pencegahan HIV PKBI Lampung, Rachmat Cahya Aji menilai penerapan kabupaten/kota layak anak harus sistematis. PKBI Lampung telah memiliki modul materi untuk edukasi proteksi kesehatan reproduksi anak. Ia menilai perlu sosialisasi kepada RT, RW, dan kecamatan yang terorganisasi soal kabupaten/kota ramah anak ini.

"Dibuat simpul-simpul di kelurahan, seperti satgas perlindungan anak di kelurahan atau kecamatan. Lalu, sistematis ada FGD, pertemuan, yang enggak cukup sekali,"  ujarnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar