#banjir#bencanaalam#kalibalau

RT Pasrah Terkait Rumah Warga di Pinggiran Kali Balau

( kata)
RT Pasrah Terkait Rumah Warga di Pinggiran Kali Balau
Kondisi terkini rumah milik wahyuni, warga pinggiran Kali Balau, Segalamider, Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Istimewa

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Ketua RT di Kelurahan Segalamider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung, mengaku tidak dapat berbuat banyak terhadap salah satu rumah warganya di pinggir bantaran Kali Balau. Sebab, rumah milik seorang janda, Wahyuni, halaman rumahnya nyaris terbaru arus sungai ketika banjir terjadi beberapa minggu lalu.

Kini dia harus menempati rumah dengan perasaan waswas terutama ketika hujan turun. Mirza Hasan, ketua RT setempat, mengatakan untuk saat ini pihaknya belum dapat berbuat banyak terhadap warganya itu. Bantuan secara materil pun belum dapat diupayakan pihaknya.

"Kalau bantuan secara materi belum, tapi kemarin (beberapa waktu lalu) pak camat sama BPBD sudah meninjau dan menindaklanjuti laporan kita, sekitar Senin atau Selasa setelah kejadian. Sekarang belum ada lagi tindak lanjutnya," ujarnya, Minggu, 28 Juni 2020.

Dia mengungkapkan pihaknya secara prosedural telah menjalankannya, tapi aparat setempat belum dapat berbuat banyak. Apalagi, kondisi perekonomian tengah bergejolak di tengah pandemi Covid-19.

"Secara prosedur sudah kami laporkan untuk anggaran sekarang belum bisa paling baru bisa tahun 2021 karena gotong royong pun tidak bisa dengan situasi masih seperti ini. Sebab, banyak warga saya yang kena banjir, cuma kondisi sekarang ini saya bukan tidak mau bantu, pak camat pun sudah daya upaya, sudah kita jalankan," ujarnya.

Menurut dia, dampak peristiwa banjir yang terjadi beberapa pekan lalu tersebut tidak terlalu berdampak besar. "Dampak kebanjiran kemarin hanya selintas, tidak terlalu parah, kami kasihan tapi mau bagaimana lagi," katanya.

Dia meyakinkan warga setempatnya itu kurang dapat bersosialisasi dengan baik sehingga ketika terjadi peristiwa yang menimpa warga lainnya, dia tidak dapat memberikan pengarahan secara tegas. Namun, pihaknya terbentur biaya.

"Kami sudah ambil tindakan dengan menyiapkan karung. Cuma kami tidak memiliki dana untuk mengupat tenaga. Saya minta bantuan masyarakat yang punya karung ikut bantu mengumpulkan. Kalau tenaga tidak bisa kami berdayakan karena masyarakat sini sangat sulit, memang orang-orangnya seperti itu. Untuk gotong royong masjid saja yah anak-anak juga belum tentu," katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar