#nuansa#rezeki-hari-ini#SetitikAir#d-widodo

Rezeki Hari ini

( kata)
Rezeki Hari ini
Ilustrasi Pixabay.com

D Widodo

Wartawan Lampung Post

MEREBAKNYA virus corona hampir di seluruh negara telah mengubah banyak hal. Pola interaksi individu dan pola konsumsi berubah. Bukan mustahil secara agregatif akan mengubah sistem ekonomi, politik, dan sosial.

Bandar udara mulai sepi. Kegiatan yang melibatkan massa berkurang. Anak-anak sekolah mengubah kebiasaan berjabat tangan diganti dengan salam membungkuk serta tangan kanan di dada kiri. Orang-orang dengan masker pun menjadi pemandangan biasa di tempat umum.

Masker menjadi barang paling diburu dan harganya pun melambung. Gudang masker digerebek dan pelakunya berurusan dengan hukum karena dianggap melanggar Pasal 107 UU No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan.

Level masker dianggap setara dengan barang pokok dan barang penting, padahal secarik kain penutup mulut dan hidung itu tidak spesifik tercantum dalam Pasal 2 Ayat (6) huruf a dan b Perpres No 71 Tahun 2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting.

Selain masker, gejala panic buying pun merebak. Kaum berduit memborong kebutuhan pokok di pusat perbelanjaan. Mereka berjaga-jaga saat wabah virus benar-benar terjadi. Paling tidak sudah ada stok bahan pangan di rumah. Panic buying mencerminkan betapa serakahnya sebagian masyarakat kita.

Masker diborong habis oleh orang berpunya seakan ia tetap akan sehat di tengah masyarakat yang terpapar virus corona. Andai ada 100 masker diborong lima orang, 95 orang lain kemungkinan besar terjangkit virus. Pertanyaannya, sampai kapan lima orang itu tetap bertahan sehat ketika mereka hidup dan berinteraksi di antara 95 orang yang sudah terjangkit virus? Bukankah lebih aman kalau 100 masker itu disebar merata kepada 100 orang?

Mentalitas serakah itu juga dapat dilihat dari orang yang memborong bahan pokok. Sampai berapa lama stok bahan pokok itu akan habis? Katakan tiga bulan baru habis. Lantas, selama tiga bulan itu hingga waktu berikutnya kenyamanan hidup seperti apa yang diperoleh saat sebagian besar tetangga terpapar virus?

Manusia memang harus berikhtiar untuk menikmati kehidupan. Tetapi, ikhtiar itu sering kebablasan. Pusat kehidupan tidak lagi ditempatkan pada satu titik, yakni Tuhan Yang Mahakuasa, tetapi bergeser ke dalam diri pribadi. Seakan ingin hidup seribu tahun lagi; seakan Tuhan memberi rezeki hanya satu kali.

Sejatinya, Tuhan memberi rezeki setiap hari dan setiap detik. Itulah makanya dalam doa Bapa Kami ada disebut "berilah kami rezeki pada hari ini", bukan "berilah kami rezeki pada hari ini, besok, minggu depan, dan tahun depan."

Cukuplah rezeki untuk hari ini. Besok bekerja dan berdoa lagi dan Tuhan pasti kembali memberi kecukupan rezeki. Barangkali doa ini kurang cocok untuk manajer investasi, tetapi pas untuk orang yang berpasrah diri pada kekuasaan Ilahi. 

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar