#buras#resolusi2020

Resolusi 2020, Wisudalah Penonton!

( kata)
Resolusi 2020, Wisudalah Penonton!
H. Bambang Eka Wijaya (Dokumentasi Lampost.co)

DI jalan tol trans-Sumatera (JTTS) antara Bakauheni ke Bandar Lampung, sesekali ada pelemparan batu dari luar tol ke kendaraan yang melintas. Ini jelas perbuatan yang amat membahayakan pemakai jalan dan layak dikutuk. Diharapkan, aparat keamanan bisa segera mengatasinya.

Layak dicari tahu, alasan atau motivasi pelakunya. Tentu bisa beragam. Apa pun alasannya, dari yang hanya iseng, gatal tangan, hingga sebagai ekspresi sikap resistan, penindakan tetap harus yang benar-benar bisa membuat jera agar kejadian itu tidak terulang.

Namun, terlepas dari penindakan tegas itu, jika latar belakangnya ekspresi sikap resistan, perlu didalami masalahnya dan dicarikan solusi agar sikap itu tak larut berkepanjangan menyiksa warga pengidapnya. Misalnya, kalau sikap resistan itu kekesalan karena jalan tol yang membelah desanya hanya menyulitkan hidupnya, memisahkan dirinya dengan sanak saudara, sejawat, bahkan kekasihnya. Apalagi jalan tol tidak memberi manfaat kepada mereka, karena rakyat hanya dijadikan penonton. Sejak membangun tol amat kurang serapannya terhadap tenaga kerja lokal. Lalu setelah jadi, bagi mereka cuma jadi tontonan pameran kemewahan pengguna jalan tol.

Betapa, realitas rakyat hanya dijadikan sebagai penonton dalam proses pembangunan adalah masalah yang menuntut penyelesaian nyata. Artinya, perlu strategi untuk mewisuda rakyat dari kelasnya hanya sebagai penonton dalam proses pembangunan.

Lemparan batu ke jalan tol mungkin ekspresi yang terlalu buruk buat mengingatkan elite dari kelalaian membiarkan mereka tertahan di posisi penonton pembangunan. Tapi, bagaimana kalau kecenderungannya justru perlu lebih dari sekadar lemparan batu guna mengingatkan elite untuk itu?

Karena itu, sebagai resolusi masuk 2020, setiap elite agar keluar dari cangkang mewahnya untuk menyimak langsung apa yang bisa dilakukan untuk mewisuda rakyat dari posisi sebagai penonton pembangunan.

Dimulai dari rakyat sekitar tol, dari mana asal batu melayang. Setidaknya, setiap 10 kilometer dibangun jembatan penyeberangan orang (JPO), agar kehidupan sosial mereka bisa pulih seperti sedia kala. Masih di area sama, dibuat proyek padat karya berbagai infrastruktur desa, agar bisa mempekerjakan mereka dengan gaji harian.

Bersamaan itu, cepat bangun pusat-pusat industri di sepanjang JTTS seperti Merak—Tangerang atau Bekasi—Karawang. Dengan itu wisudalah penonton pembangunan sekitar jalan tol, bahkan skala warga yang lebih luas lagi. ***

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar