#PENDIDIKAN-19#MPR#

Rerie: Perlu Sistem Pembelajaran Adaptif untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Aceh

( kata)
Rerie: Perlu Sistem Pembelajaran Adaptif untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan Aceh
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Foto: Dok)


Jakarta (Lampost.co) -- Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menyatakan perubahan sistem pembelajaran di masa pandemi berdampak pada kualitas pendidikan di tanah air yang membutuhkan upaya adaptasi lewat berbagai inovasi. 

"Pekerjaan rumah yang mesti diperhatikan dalam sistem pendidikan yang berubah saat ini adalah learning loss, learning culture, learning adaptation dan learning innovation," kata Ketua Yayasan Sukma Lestari Moerdijat yang akrab disapa Rerie dalam webinar bertema Membangun Sinergi Demi Mutu Hebat Pendidikan Aceh, dalam rangka peringatan 15 tahun Sekolah Sukma Bangsa, Rabu, 14 Juli 2021.

Diskusi daring tersebut dimoderatori Direktur Sekolah Sukma Bangsa Bireun Fachrurrazi. Adapun narasumber acara itu diantaranya Kepala bidang SMA, Dinas Pendidikan Aceh Hamdani; Rektor Universitas Syiah Kuala Samsul Rizal; Anggota DPR-RI Aceh/Komisi X Bidang Pendidikan Perpustakaan dan Pariwisata Hj. Illiza Saaduddin Djamal; dan Antropolog/Dosen UIN Ar-Raniry Aceh Reza Idria. Selain itu, hadir pula Ahmad Baedowi (Direktur Eksekutif Yayasan Sukma), Victor Yasadhana  (Direktur Pendidikan Yayasan Sukma),  dan Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia) sebagai panelis.

Karena itu, jelas Rerie, diperlukan restrukturisasi sistem dan tata pembelajaran secara sinergis untuk meningkatkan mutu pendidikan saat ini. Menurutnya, pendidikan yang berkualitas dan berkelanjutan patut dipersiapkan dengan mempertimbangkan situasi lokal mengingat Indonesia memiliki sumber daya manusia dengan perbedaan suku, agama, bahasa, budaya, dan adat istiadat. 

Baca juga : Rerie: Solidaritas Warga Jadi Kekuatan Baru Hadapi Pandemi

Usai bencana dan tsunami Aceh, ujar Rerie, Yayasan Sukma hadir untuk merevitalisasi pendidikan di Aceh dengan mendirikan Sekolah Sukma Bangsa di Pidie, Bireuen dan Lhokseumawe. Sekolah Sukma Bangsa, ungkap Rerie, menanamkan filosofi school that learns sebagai fondasi pengembangan sekolah. Dalam perkembangannya, tambah Rerie, Sekolah Sukma Bangsa dengan kemampuan inovasinya di setiap periode, merumuskan kurikulum perdamaian dan resolusi konflik berbasis sekolah. 

Rerie menilai, mutu pendidikan sesungguhnya tidak diukur dengan variabel dan parameter “dari luar” tetapi dimulai dengan kemampuan institusi untuk melakukan pembelajaran dengan bekal kemampuan inovasi. 

Baca juga : Rerie Nilai Ancaman Covid-19 terhadap Anak Diatasi dengan Peningkatan Ketahanan Keluarga

Kepala bidang SMA, Dinas Pendidikan Aceh, Hamdani, mengaku pihaknya sudah melakukan penguatan kurikulum karena tujuan pendidikan di Aceh tidak hanya agar siswa mendapat nilai tinggi, tetapi harus sadar hukum dan norma kehidupan di keseharian.

Rektor Universitas Syiah Kuala, Samsul Rizal menilai daya saing lulusan SMA di Aceh masuk perguruan tinggi belum merata. Lulusan SMA Aceh diterima di perguruan tinggi di Aceh jumlahnya cukup memadai. Namun, ujar Samsul, lulusan SMA Aceh yang diterima di perguruan tinggi di luar Aceh hanya 3,6%.

Anggota Komisi X DPR-RI dari Aceh Illiza Saaduddin Djamal berpendapat peserta didik di Aceh harus menjadi anak yang berilmu, beriman dan berakhlak mulia.

Antropolog UIN Ar-Raniry Aceh, Reza Idria menilai setiap manusia harus dilihat berbeda karena memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang baik secara visual atau kemampuan mendengar lebih baik, bahkan meraba lebih baik. Jadi, jelas Reza, cara pendekatannya pun berbeda-beda pula. Reza berharap, pemerintah bisa memfasilitasi dan sekolah membuka diri untuk membentuk peserta didik di Aceh agar memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan era modern saat ini.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar