Unilaknpi

Rektor Unila Bersama KNPI Tegaskan Komitmen Kebhinekaan

( kata)
Rektor Unila Bersama KNPI Tegaskan Komitmen Kebhinekaan
Foto. Dok

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Belakangan isu terkait rasisme cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Menanggapi hal itu, KNPI Bandar Lampung menggelar diskusi kebhinekaan untuk menegaskan komitment menjaga kebhinekaan di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, KNPI mengundang Rektor Unila Prof Karomani sebagai pembicara.

Sekretaris KNPI Bandar Lampung Een Riansah menyampaikan, diskusi yang digelar secara daring itu sebagai upaya menengahi persoalan tersebut. Ia mengatakan, pihaknya mengingatkan kembali mengenai peran pemuda dalam menjaga persatuan dan kebhinekaan yang telah muncul sejak Sumpah Pemuda tahun 1928.

“KNPI ingin menegaskan bahwa secara historikal peran pemuda dalam persatuan Indonesia sangat besar melalui Sumpah Pemuda. Sehingga tugas pemuda saat ini bukan lagi membicarakan perbedaan tetapi membahas tujuan yang sama dalam meningkatkan produktifitas pemuda terhadap Bhinneka Tunggal Ika dan pengembangan ekonomi di Indonesia,” tegas Een Riansah yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut.

Sementara dalam memberikan pandangannya Prof Karomani menyampaikan, terdapat beberapa penyebab rasisme. Menurutnya, pemusatan sumber daya yang tidak proporsional, kapitalisme global, kapitalisme ruang konsumsi, globalisasi, relasi antar kuasa dan kelompok berbasis identitas, keterbelakangan masyarakat, era post-truth, hoaks, dan ujaran kebencian menjadi penyebab tindakan rasisme.

“Harus kita sadari bahwa ada pihak-pihak tertentu, baik di dalam dan pasti di luar yang tidak ingin Indonesia aman, damai, sejahtera. Mereka justru ingin Indonesia ini terjadi seperti di belahan bumi lain yang jika itu terjadi maka penguasaan sumber daya alam kita akan beralih ke pihak mereka,” jelas mantan Warek III Unila itu.

Untuk itu, lanjutnya, diperlukan peran pemuda dalam merajut Bhinneka Tunggal Ika antara lain membangun gerakan budaya dari segala arah melibatkan semua pemuda untuk mengubah tatanan menjadi inklusif, mendorong solidaritas lintas batas, mendorong generasi muda lintas batas melalui kreativitas berorientasi masa depan dan menyindir rasisme.

“Perlu adanya netralitas Negara dan hukum untuk melindungi setiap warga dan kekerasan berbasis identitas atau latar belakang, dan perlu memfasilitasi tokoh pemuda seperti KNPI untuk terus membangun solidaritas antar kelompok ras, etnis, aliran agama, dan seterusnya,” ungkapnya.

Rektor Unila tesebut juga tidak lupa berpesan kepada seluruh mahasiswa Papua agar jangan sampai menganggap Lampung sebagai tanah orang, tetapi sebagai tanah tumpah darah yang telah diperjuangkan bersama.

“Oleh karena itu, kita perlu bersyukur dalam perbedaan yang sangat banyak namun tetap bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” pesannya.

Hal ini juga dipertegas dengan penjelasan dan penyampaian oleh Tokoh Masyarakat dan Mahasiswa Papua di Provinsi Lampung, Pdt. Tonny RM Bettay, yang menjelaskan bahwa Presiden Joko Widodo sangat memperhatikan Papua.

“Kami sangat berterima kasih karena (Presiden Jokowi) sangat giat dalam membangun di Papua, tapi masih saja ada pihak yang ingin Papua merdeka karena kelompok-kelompok politik yang berada di luar negeri,” ungkap Tonny.

Tokoh Papua yang akrab disapa Otto itu juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah khususnya Rektor Unila dan menitipkan mahasiswa Papua agar dapat berkuliah dengan nyaman di Unila.

Hal tersebut langsung ditanggapi oleh Rektor Unila, “tidak perlu dititipkan, karena adik-adik Papua adalah bagian dari nafas kita, bagian dari badan-tubuh kita sebagai bangsa, sehingga tidak dititipkan pun akan tetap dijaga,” jawabnya.

Winarko



Berita Terkait



Komentar