#BENTROKWARGA#PERTIKAIAN

Rebutan Lahan, Ormas dan Warga Desa Karangsari Bentrok

( kata)
Rebutan Lahan, Ormas dan Warga Desa Karangsari Bentrok
Ratusan warga desa Karangsari, kecamatan Ketapang, Lampung Selatan bentrok dengan salah satu ormas di lahan sengketa dusun Bangundana, Desa Bangunrejo, kecamatan Ketapang, Sabtu sore, 3 Juli 2021. Lampost.co/Aan Kridolaksono


Kalianda (Lampost.co) --  Bentrokan antara warga desa Karangsari, kecamatan Ketapang, Lampung Selatan dengan puluhan anggota sebuah organisasi masyarakat (ormas) pecah di dusun Bangundana, Desa Bangunrejo, kecamatan Ketapang, Sabtu sore, 3 Juli 2021.

Ratusan warga desa Karangsari mengejar puluhan anggota ormas yang telah memasang patok dan menggusur berbagai jenis tanaman dengan alat berat di lahan warga desa Karangsari yang diklaim oleh ormas tersebut berdiri di atas lahan warga desa Bangunrejo.

Aksi warga yang merasa dirugikan itu semakin beringas. Patok-patok yang dipasang di atas lahan sengketa dicabut. Puluhan anggota sebuah ormas di kabupaten Lampung Selatan itu kocar kacir. Beberapa kali suara tembakan dari anggota kepolisian meredam suara-suara lantang warga yang marah.

Baca juga :Dua Kelompok Warga Bentrok di Lahan Sawit, Satu Tewas

Beberapa saat kemudian suasana tenang, setelah warga desa Karangsari menguasai lahan yang menimbulkan konflik tersebut.

Kapolres Lampung Selatan AKBP Edwin mengatakan bentrokan itu dipicu perebutan atau sengketa lahan yang terletak di perbatasan antara desa Karangsari dengan desa Bangunrejo.

“Malam sebelumnya kami juga mendengar ada gerakan dari ormas GML untuk menguasai lahan. Karena itu, sejak pagi tadi turun langsung ke lokasi untuk mengantisipasi kejadian yang tidak kami inginkan," kata AKBP Edwin.

Baca juga:Situasi Jabung Pascabentrok Mulai Kondusif

Kapolres juga meminta kepada anggota GML meninggalkan lokasi sengketa dan menghentikan kegiatan untuk mendinginkan situasi.

"Kami lihat rekan kami GML mau menguasai lahan. Namun, di satu pihak ada yang memiliki sertifikat. Untuk itu, kami segera mengambil tindakan atas kegiatan kegiatan yang dilakukan GML dan meminta GM PT untuk meninggalkan lokasi terlebih dahulu supaya suasana  menjadi aman," terangnya.

Edwin menyebutkan, luas lahan sengketa mencapai 74 hektare. Namun, yang dipermasalahkan seluas empat hektare.

 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar