#banjir#puso#pertanian

Ratusan Hektare Sawah di Rawapitu Terancam Gagal Panen

( kata)
Ratusan Hektare Sawah di Rawapitu Terancam Gagal Panen
Ratusan hektare tanaman padi di Kampung Sumberagung, Kecamatan Rawapitu, Tulangbawang terancam gagal panen, akibat terendam banjir. Lampost.co/Ferdi


Menggala (Lampost.co) -- Ratusan hektare tanaman padi di Kampung Sumberagung, Kecamatan Rawapitu, Tulangbawang terancam gagal panen, akibat terendam banjir.

Tanaman padi yang berumur 4 hingga 30 hari di daerah itu, mulai menguning dan membusuk akibat terendam air sejak sepekan terakhir.

Baca juga: Banjir Rendam 4 Kecamatan di Tulangbawang

Ketua Kelompok Tani Mekar Pagi, Kampung Sumberagung, Safi'i, mencatatat terdapat lima hektare tanaman padi dan satu hektare tanaman palawija berupa terong dan cabai milik tujuh orang petani yang tergabung dalam kelompoknya terancam mati.

Meski ketinggian air mulai surut, kerugian yang ditimbulkan akibat bencana alam itu ditaksir mencapai seratusan juta.

"Kalau palawija itu kerugian ditaksir Rp20 sampai Rp30 jutaan. Sedangkan untuk padi kerugian ditaksir Rp15 sampai Rp20 juta per haktarenya," kata Safi'i, kepada Lampost.co, Sabtu, 15 Januari 2022.

Ia mengaku, untuk meminimalisir kerugian petani pihaknya telah mengajukan bantuan penerimaan asuransi.

Wiyono salah satu anggota Kelompok Tani Maju Lancar, Kampung Sumberagung, mengatakan tanaman padi berumur dua pekan miliknya seluas satu hektare terancam gagal panen, karena sudah terendam banjir selama sepekan.

Ia pesimis, tanaman padi miliknya beserta 15 hektare lahan petani lain yang berumur tiga hingga 17 hari itu bakal tumbuh maksimal meski ketinggian air kini mulai surut.

"Itu sudah mulai kuning dan membusuk daunnya. Memang ada sebagian enggak terendam masih keliatan daunnya, kalau di kumpulin tersisa 1/4 hektarelah, " kata Wiyono yang merupakan warga Kampung Sumberjaya, Kecamatan Gedung Aji Baru.

Ia menjelaskan, untuk menanam satu hektare lahan membutuhkan modal sekitar Rp2.340.000 dengan rincian penggunaan biaya, Rp1200 bajak lahan, Rp900 ribu tanam, dan Rp240 ribu cabut bibit dengan asumsi per petak atau 1/4 hektarenya memakan biaya Rp80 ribu dikali empat petak untuk lahan satu hektare.

Dia memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai Rp21 jutaan dengan asumsi hasil panen satu hektare lahannya menghasilkan 6 ton dikalikan harga jual gabah basah Rp3500.

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kampung Sumberagung, Ambar, mencatat dari total 1.271 lahan sawah yang terendam banjir, terdapat 650 hektare lahan telah ditanami masyarakat dengan umur padi tujuh sampai 30 hari.

Namun, hingga kini pihaknya belum dapat memprediksi kerugian yang ditimbulkan bencana alam itu, karena tengah menunggu kondisi air mengering.

"Dari 650 hektare itu sampai kemarin tinggal 550 hektare yang masih terendam, karena yang 100 hektare airnya sudah surut. Dan yang 100 hektare itu aman karena usia padi masuk 20 sampai 30 hari. Kalau yang sisanya kita belum bisa pastikan (gagal panen), karena nunggu airnya surut," ujar Ambar.

Ia mengaku, kini pihaknya tengah mendata jumlah sawah yang terkena dampak banjir untuk diajukan sebagai penerima bantuan asuransi program Pemerintah Provinsi Lampung.

Winarko







Berita Terkait



Komentar