#hujan#sawah

Ratusan Hektare Padi di Sragi Rusak Usai Diguyur Hujan

( kata)
Ratusan Hektare Padi di Sragi Rusak Usai Diguyur Hujan
Tanaman padi milik petani di Desa Baktirasa, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, yang roboh akibat diterjang hujan deras, Selasa (5/5/2020). Armansyah

Kalianda (Lampost.co) -- Akibat hujan deras disertai angin kencang, pada Senin, 4 Mei 2020 malam, ratusan hektar tanaman padi Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, roboh. Petani setempat was-was tanaman padi yang siap panen dalam beberapa hari kedepan akan memengaruhi hasil produksi.

Seperti yang diungkapkan, Ketua Gapoktan Karyamakmur, Desa Kualasekampung, Wanto mengatakan hujan disertai angin kencang semalaman mengakibatkan tanaman padi di wilayah setempat roboh. Tanaman padi yang roboh dipastikan akan berdampak pada hasil panen.

"Hasil produksi akan berkurang mencapai 30 persen. Bahkan, bisa menimbulkan pembusukan pada batang dan buah bila dibiarkan," kata dia, Selasa, 5 Mei 2020.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Sinarbakti, Desa Baktirasa, Purwanto mengatakan tanaman padi yang roboh rata-rata telah berusia 60 - 70 hari setelah tanam (HST).

"Semua varietas Ciherang dan Muncul yang pada roboh. Tapi, rata-rata tanaman padi yang sudah menunduk karena buahnya sudah berisi," kata dia.

Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sragi Eka Saputra mengatakan pihaknya hingga kini belum mendata secara rill luasan tanaman yang roboh. Namun, ia memperkirakan seluas 150 hektare lebih tanaman padi di Kecamatan Sragi dipastikan roboh.

"Di Desa Sumbersari dan Sumberagung saja sudah mencapai 150 hektare yang roboh. Tanaman roboh itu memang diterjang angin dan air yang begitu deras. Tapi, untuk data rill nya besok baru di data," kata dia.

Eka mengatakan pihaknya meminta kepada petani supaya mengikat tanaman padi yang roboh hingga berdiri. Sebab, cara ini dilakukan untuk mengurangi resiko kerugian saat panen nanti.

"Kalau tanaman yang belum bisa dipanen upayakan untuk segera didirikan dan diikat secara manual menggunakan tambang atau tali. Karena resikonya pada saat produksi panen akan menurun dan padi menjadi rusak," kata dia.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar