#kekeringan#kemarau#gagalpanen#beritalamsel

Ratusan Ha Tanaman Padi di Palas Dihantui Ancaman Kekeringan 

( kata)
Ratusan Ha Tanaman Padi di Palas Dihantui Ancaman Kekeringan 
Areal lahan persawahan di Desa Bumidaya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, yang mulai mengalami kekeringan, Rabu (31/7/2019). Lampost.co/Armansyah

KALIANDA (Lampost.co) -- Ratusan hektare lahan persawahan di Kecamatan Palas, Lampung Selatan, dihantui ancaman kekeringan pada musim gaduh tahun ini. Petani diminta waspada terhadap ancaman kekeringan dan manfaatkan pompanisasi sumur bor. 

Berdasarkan  pantauan Lampost.co, ancaman kekeringan itu menghantui areal lahan persawahan di wilayah barat Kecamatan Palas, yakni Desa Tanjungjaya, Bumidaya, Bumirestu, Bumiasih, Pulaujaya,  Baliagung dan Desa Kalirejo.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian (P3) Kecamatan Palas, Agus Santosa mengatakan pasokan air dari sejumlah saluran tersier dan sekunder semakin berkurang. Bahkan, aliran Sungai Way Sekampung sudah mengkhawatirkan karena tidak masuk lagi dalam saluran irigasi. "Berkurangnya debit air Sungai Way Sekampung sudah mulai memberikan ancaman kekeringan pada tanaman padi pada musim gaduh ini. Semua jaringan irigasi mulai menyusut. Terutama di wilayah barat karena air Sungai Way Sekampung sudah tidak masuk lagi saluran irigasi," kata dia, Rabu (31/7/2019).

Dia mengatakan dari luasan lahan yang sudah ditanami sekitar 2.500 hektare, diantaranya sekitar 800 hektare tanaman padi di wilayah barat Palas mulai dihantui ancaman kekeringan."Ancaman kekeringan terjadi karena petani di desa tersebut hanya mengandalkan air Sungai Way Sekampung yang masuk ke saluran sekunder dan tersier.  Sedangkan air sungai way sekampung saat ini sudah berkurang. Bahkan, banyak petani yang tidak miliki sumur bor," katanya. 

Selain ancaman kekeringan, kata Agus, petani juga dihantui adanya pasang surut air laut sehingga menyebabkan air Sungai Way Sekampung menjadi asin. Tentu tidak bisa digunakan petani  untuk menyiram tanaman padi. "Lebih dari itu bagi wilayah sawah yang dekat dengan aliran Sungai Sekampung saat ini juga tidak bisa mengandalkan air sungai. Soalnya, saat ini air kadang asin dan tidak bisa digunakan untuk menyiram padi," ujaranya.

Terpisah, Keri (49) salah satu petani Desa Bumidaya  mengatakan saat ini saluran irigasi diwilayah tersebut sudah mengalami kekeringan sejak dua pekan terakhir. Kini petani hanya mengandalkan hujan dan sumur bor. "Saluran iigasi sudah kering, Mas. Saat ini saya cuma mengharapkan hujan bisa turun dalam waktu dekat. Karena saat ini belum punya sumur bor untuk menyiram padi," katanya.

Armansyah



Berita Terkait



Komentar