virusbabi

Ratusan Babi di Baliagung Palas Mati Mendadak

( kata)
Ratusan Babi di Baliagung Palas Mati Mendadak
Ilustrasi. (Foto: ANTARA/Nyoman Budhiana)

KALIANDA (Lampost.co) -- Sebanyak 400 ekor ternak babi di Desa Baliagung, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, dilaporkan mati mendadak dalam dua bulan terakhir. Kematian ratusan ternak babi tersebut diduga akibat virus flu babi afrika atau virus African Swine Faver (ASF).

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, sebagian besar masyarakat Desa Baliagung saat ini berhenti beternak babi lantaran tidak ingin merugi.

Salah satu warga Desa Baliagung, Made Sujane mengatakan, ternak babi miliknya sebanyak 40 ekor mengalami mati mendadak dalam kurun dua bulan terakhir. Akibat serangan virus ASF itu, akibatnya ia mengalami kerugian puluhan juta rupiah. 

"Ternak babi ada 40 ekor punya pada mati semua. Jelas, kami merugi karena modal beli babi itu mencapai Rp300ribu per ekor dengan berat 10 kg. Sedangkan, babi yang mati mayoritas sudah berat mencapai 35 kg. Kalau kita jual dengan harga Rp20 ribu, jadi kerugian bisa diasumsikan mencapai Rp28 juta," kata dia, Kamis, 13 Agustus 2020.

Karena alami mati mendadak, kata Made Sujane, peternak babi saat ini lebih memilih istirahat beternak babi. Hal ini untuk mengurangi kerugian yang lebih banyak. "Sudah banyak yang istirahat beternak babi. Paling hanya ada beberapa ekor saja masih ada beternak," ujarnya. 

Sementara itu Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan Kecamatan Palas – Sragi, Iwan Ismunanto mengatakan, saat ini pihaknya melakukan upaya mengistirahatkan kandang untuk memutus penularan virus yang berasal dari benua Afrika tersebut. 

"Untuk di wilayah Bali Agung kandang memang sedang diistirahatkan oleh peternak. Populasi babi di desa ini juga tinggal sedikit dan masyarakat juga masih trauma untuk kembali beternak," kata dia. 

Iwan mengatakan virus tersebut mulai menyerang ternak babi menjelang pertengahan Juni lalu. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, virus tersebut membunuh 70 persen populasi babi di Desa Bali Agung.

"Total populasi Babi ada 535 ekor. Sedangkan, yang mati sekitar 400 ekor. Sementara sisanya yang masih hidup sudah banyak dijual. Populasi babi di desa ini sekarang bisa dikatakan habis, sedikit sekali," kata dia.

Saat ini, kata dia, peternak belum diizinkan untuk membeli babi dari luar daerah. Kemudian, kendaraan pengangkut ternak juga harus disterilisasi menggunakan disinfektan sebelum memasuki wilayah Kecamatan Palas dan Sragi. 

"Terutama di Kecamatan Sragi. Kami imbau, untuk sementara waktu tidak membeli babi dari luar daerah. Sementara itu, kendaraan pengangkut ternak juga harus disemprot desinfektan," kata dia.

Winarko



Berita Terkait



Komentar