#refleksi#ramadan#covid-19#Iskandar-Zulkarnain

Ramadan Corona

( kata)
Ramadan Corona
foto dok Lampost.co

Iskandar Zulkarnain

Wartawan Lampung Post

AKU perlu menuliskannya kembali bagaimana kondisi puasa tahun ini berbeda jauh dari bulan suci yang penuh rahmat pada tahun sebelumnya. Dalam sejarah, baru kali ini rumah ibadah sepi menyusul ancaman nyata dari penularan pandemi Covid-19.  Mufti Besar Arab Saudi Abdulaziz al-Sheikh memutuskan salat selama Ramadan dan Idulfitri di rumah saja.

"Hati kami menangis," kata Ali Mulla, sang muazin Masjidil Haram di Mekah. "Saya terbiasa melihat masjid suci ini penuh sesak dengan orang-orang di siang hari, malam hari, sepanjang waktu," tuturnya.

Dalam sebulan terakhir, kekosongan yang menakjubkan telah menyelimuti Kakbah. Ibadah haji yang dilakukan pada akhir Juli nanti, kemungkinan juga dibatalkan untuk pertama kali dalam sejarah modern. Arab Saudi meminta umat muslim sedunia menunda sementara persiapan ibadah.

Subhanallah, Allahuakbar. Ampuni dosa-dosa kami. Jutaan orang di Timur Tengah kini menjalani pembatasan kegiatan mulai dari Arab Saudi, Mesir, dan Libanon, Jerusalem hingga zona pertempuran di Libia, Irak, Suriah, dan Yaman. Begitu pun Mufti Besar Jerusalem dan Palestina, Muhammad Hussein saja telah mengumumkan pembatasan ibadah.

Termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah meminta rakyatnya beribadah di rumah selama bulan Ramadan. Di Indonesia seperti di Timur Tengah adalah Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara yang terletak di jantung ibu kota negeri ini meniadakan salat tarawih.

Istiqlal menggelar tausiah hanya dilakukan secara daring. Tidak ada buka puasa bersama yang biasanya dihadiri ribuan umat Islam. Sebagai gantinya membagikan buka puasa di sejumlah sudut kota. Pastikan salat tarawih di rumah saja, berjemaah bersama keluarga.

Hashtag (#) buka puasa di rumah saja bersama keluarga. Dengarkan tausiah di rumah saja. Cukup itu saja. Ingat! Bukan ibadahnya yang dilarang melainkan kerumunannya–membuat masalah besar karena tidak mampu memutus rantai penularan Covid-19.

Dalam laporan Science Daily, mengungkapkan, studi baru yang diterbitkan Psychiatry Research memberikan beberapa bukti paling awal bahwa wabah corona sangat memengaruhi kondisi seorang baik secara mental maupun fisik. Ini akibat efek penting dari kebijakan lockdown.

Para peneliti dari University of Adelaide, Tongji University, dan University of Sydney menyurvei 369 orang dewasa yang tinggal di 64 kota di Tiongkok setelah mereka berada dalam isolasi selama satu bulan pada Februari lalu.

Lebih dari seperempat peserta bekerja di kantor selama lockdown dan  38% bekerja dari rumah, serta 25% berhenti bekerja karena wabah. Patut diingat pula bahwa Tiongkok adalah tempat asal muasal virus corona.

Studi itu menunjukkan orang yang berhenti bekerja melaporkan kondisi kesehatan mental dan fisik sangat buruk. Kepuasan hidup yang negatif ditunjukkan bagi mereka yang memiliki masalah medis kronis. Termasuk berolahraga lebih 2,5 jam per hari. Dan, mereka yang berolahraga selama setengah jam selama lockdown melaporkan kepuasan hidup yang positif.

Itu mengapa sebagian kota di negeri ini tidak menerapkan lockdown, akan tetapi lebih memilih berstatus pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti Jakarta. Penerapan PSBB di Ibu Kota selama dua pekan saja, belum berjalan efektif. Masih banyak warga abai terhadap peraturan PSBB yang diberlakukan sejak 10 April lalu. Faktanya sebagian besar kantor masih tetap beroperasi.

***

Akibatnya, PSBB di Jakarta diperpanjang selama 28 hari ke depan hingga 22 Mei mendatang seiring dengan penerapan kebijakan lebih tegas lagi. Seperti penyekatan jalan dan implementasi kebijakan larangan mudik yang berlaku mulai Jumat (24/4) hingga usai Lebaran Idulfitri. Ini pilihan yang tidak mengenakan bagi anak-anak bangsa.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berucap, "Banyak masyarakat yang belum menyadari tentang PSBB dan aturannya. Ke depan, fase imbauan, fase edukasi sudah selesai. Sekarang saatnya fase penegakan.”

Dalam aturan PSBB, ada 11 sektor yang diperbolehkan beraktivitas. DKI Jakarta mencatat terdapat 834 badan usaha yang masih beroperasi dengan izin Kementerian Perindustrian. PSBB selama dua pekan kemarin, hanya isapan jempol. Sebagian besar sudut ibu kota masih penuh sesak!

Peraturan masih abai! Kebijakan social distancing hanya sebatas di mulut bukan dari hati nurani. Negeri ini masih tertatih-tatih menentukan skala prioritas. Apakah mau menyelamatkan nyawa rakyat atau urusan ekonomi. Yang jelas, wabah Covid-19 dalam suasana keprihatinan di bulan Ramadan yang berbeda dengan tahun lalu.

Saatnya manusia mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Ada empat hikmah yang harus disadari umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa di rumah. Pertama adalah momentum untuk bertobat. Kedua, taqarub ilallah atau mendekatkan diri kepada Allah yang menguasai kerajaan di langit dan di bumi. Caranya? Menunaikan salat wajib lima waktu, salat sunat, tahajud dan qiamulail atau salat malam serta khatam membaca Alquran.

Hikmah ketiga, puasa di tengah pandemi adalah meningkatkan solidaritas sesama anak-anak bangsa dengan membantu bagi mereka yang terpapar virus corona. Puasa menahan lapar dan haus untuk mengajarkan–meringankan penderitaan orang yang terimbas karena wabah. Sebagian anak bangsa harus menerima keputusan berhenti bekerja.

Sedangkan hikmat keempat dari wabah Covid-19 di bulan puasa adalah berjihad kemanusiaan melawan virus. Caranya? Membatasi diri, menjaga jarak untuk tidak menularkan atau ditulari virus mematikan ini. Bulan Ramadan, bulan penuh rahmat dan ampunan ini memberi makna bahwa saatnya manusia tidak boleh congkak, angkuh, dan sombong sedikitpun.

Sadarlah! Baru diuji makhluk kecil, ciptaan Allah ini saja–yang tidak terlihat oleh kasat mata saja, sudah porak-poranda dibuatnya. Apalagi lebih besar, akan tidak berdaya menghadapinya. Pastikan puasa di tengah pandemi ini membawa hikmah besar bagi penduduk bumi yang kini beribadah dari rumah saja.  ***

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar