#feature#banjir#lamsel#beritalampung

Pupusnya Harapan Pemanen Padi Usai Banjir Menerjang 

( kata)
Pupusnya Harapan Pemanen Padi Usai Banjir Menerjang 
Adhari (63) salah satu petani penggarap asal Desa Sukamulya, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, saat menunjukkan tanaman padi miliknya setelah diterjang banjir, Senin (3/11/2018). (Foto:Lampost/Armansyah)

KALIANDA (Lampost.co)--Genangan banjir dari luapan Sungai Way Pisang sejak Sabtu (1/12) kini telah berlalu. Namun, peristiwa itu masih menyisakan kenangan cerita bagi petani di beberapa Desa di Kecamatan Palas, Lampung Selatan. 

Areal tanaman padi seluas 276 hektare yang siap panen lebih dulu disapu oleh banjir. Akibatnya, belasan hektare tananan padi milik petani terancam rusak. Selain rusak, tanaman padi yang dinilai masih bisa bertahan tapi kualitas gabah yang dipanen akan berkurang.

Saat ditemui di areal lahan persawahan Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, terlihat pria paruh baya tertunduk lesu melihat hamparan tanaman padi yang roboh akibat diterjang banjir. Hamparan yang tadinya pancarkan warna kuning pertanda tanaman padi akan siap panen, kini berubah kewarna kecoklatan bercampur sampah. 

Pria itu adalah Adhari, petani penggarap asal Desa Sukamulya, Kecamatan Palas. Ia mengaku pasrah ketika melihat tanaman padi seluas 1,5 hektare yang seharusnya dipanen pada Sabtu (1/12) lalu, namun kini roboh karena disapu banjir. 

Pria yang saat ini berusia 63 tahun itu mengatakan tanaman padi yang sekarang digarapnya adalah lahan milik warga Desa Sukaraja. Ia dipercaya menggarap dan hasil panennya nanti dibagi dua.

Adhari tidak begitu banyak berharap dengan hasil panen yang didapatkannya. Sebab, tanaman padi yang digarapnya itu dipastikan tidak begitu banyak hasil yang didapatkan. Setidaknya, hasil didapatkan akan berkurang dua kali lipat dari sebelum diterjang banjir. 

"Enggak tau. Hasilnya pasti berkurang dua kali lipat. Setelah diterjang banjir, pasti kualitas gabah yang dipanen pasti tidak bagus. Kemudian, dari bobot pasti juga berkurang. Saya misalkan, kalau tadinya ditawar pengepul berkisar Rp7 juta per hektare, dengan adanya banjir paling Rp4 juta per hektare sudah bagus," kata dia. 

Armansyah

Berita Terkait

Komentar