#cabai#kemarau#harga#beritalampung

Puncak Kemarau, Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu/Kg

( kata)
Puncak Kemarau, Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu/Kg
Salah seorang pedagang cabai rawit di pasar tradisional Sidomulyo, Lampung Selatan. Lampost.co/Perdhana

KALIANDA (lampost.co) - - Di puncak musim kemarau, harga cabai rawit di beberapa pasar kecamatan di Lampung Selatan, merangkak naik mencapai Rp100 ribu/kg, sedangkan cabai merah Rp80 ribu/kg.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun lampost.co, tingginya harga kedua komoditas tersebut disebabkan kurangnya pasokan dari petani lokal. Cabai rawit dan merah yang berada di pasaran di pasok dari luar daerah.

Kurangnya pasokan dua jenis cabai tersebut, dikarenakan para petani setempat gagal panen. Kemarau yang berkepanjangan dan hama menjadi penyebab utama para petani.

"Di sini yang tanaman cabai masih bertahan hanya sekitar dua atau tiga bidang saja," kata Wahid (53) salah seorang petani di Kecamatan Way Panji, Selasa (20/8/2019).

Kebanyakan tanaman para petani sudah banyak yang mati sebelum berbuah, karena serangan hama dan kurangnya pasokan air di musim kemarau.

"Kebanyakan yang mati menggunakan bibit cabai hybrida, sedangkan yang menggunakan bibit lokal masih bisa bertahan," kata dia.

Meskipun tanaman masih bertahan, petani terpaksa menjual cabai yang masih hijau, agar terhindar dari serangan hama ulat grayak.

"Kalau nunggu merah, enggak sempat panen keburu dimakan ulat," ujar Engkus (43) petani di Kecamatan Sidomulyo.

Menurut pengakuan para pedagang harga cabai rawit dan merah di pasaran seperti saat ini sudah bertahan sejak dua pekan lalu.

"Harga cabai relatif stabil, sejak dua pekan lalu, meskipun tinggi," ujar Warsito (32) salah seorang pedagang cabai di pasar kecamatan setempat.

Para pedagangan seperti dirinya hanya berharap harga komoditas sayuran stabil dan tidak ada gejolak di pasaran.

"Kalau mahal dan stabil kami bisa dapat untung, yang sulit itu harga setiap hari berubah," ujarnya.

Pasokan cabai merah dan rawit yang ada di pasar sebagaian besar di pasok melalui pengepul luar daerah.

"Kebanyakan dari luar daerah, cabai di pasok pengepul atau agen," kata dia.

Perdhana Wibysono



Berita Terkait



Komentar