#vonismati#hukum

PT Tanjungkarang Kuatkan Vonis Mati Pemilik 16 Kg Sabu

( kata)
PT Tanjungkarang Kuatkan Vonis Mati Pemilik 16 Kg Sabu
Ilustrasi. Dok/Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Pengadilan Tinggi (PT) Tanjungkarang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Lampung Selatan yang menghukum mati M Nasir (31). Warga Punduhpidada menjadi terpidana kasus kepemilikan sabu-sabu seberat 16 kg pada pekan kemarin.

Humas Pengadilan Tinggi Tanjungkarang, Jesayas Tarigan mengatakan tiga hakim tinggi PT Tanjungkarang yang diketuai Syamsi didamping hakim anggota Acmad Rivai dan Martinus Bala memutuskan menerima permintaan banding dari terdakwa dan jaksa penuntut umum, kedua menguatkan putusan pengadilan Kalianda nomor 226/Pid. Sus/2019/PN Kla tanggal 27 November yang diminta banding tersebut.

Selain itu, kata Jesayas, hakim tinggi juga meminta supaya terdakwa tetap berada dalam tahanan dan membebankan biaya perkara kepada negara.

"Dalam putusan hakim tinggi, terdakwa tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana mati, maka biaya perkara dibebankan kepada negara," kata Jesayas, Kamis, 23 Januari 2020.

Dia menyatakan terdakwa dijatuhi pidana Pasal 114 Ayat (2) jo Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana serta peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.

"Setelah hakim tinggi mempelajari putusan PN Kalinda dengan saksama, berdasarkan fakta serta keadaan yang terbukti di persidangan, dihubungkan dengan unsur-unsur dalam dakwaan jaksa penuntut umum, Pengadilan Tinggi berpendapat putusan PN Kalianda dapat dipertahankan dan dikuatkan," katanya.

Penangkapan bermula saat terdakwa menghubungi rekannya Setiyanto Murdani alias Jawa melalui sambungan telepon. Saat itu terdakwa menawarkan pekerjaan kepada saksi Setiyanto untuk ke Medan mengambil narkotika golongan 1 jenis sabu.

"Setiyanto datang ke indekosan terdakwa di sekitaran Panjang. Di sana sudah ada saksi Bayu Permadi. Ketiganya membicarakan soal upah dan biaya perjalanan ke Medan. Dari hasil kesepakatan, saksi Setiyanto dan Bayu akan diberi uang jalan Rp6 juta dan jika berhasil akan diberi upah Rp250 juta untuk menjemput sabu tersebut," ujarnya.

Kedua orang suruh terdakwa ini pun  berangkat melalui jalur udara lewat Bandara Radin Intan II. Terdakwa dihubungi Epul (DPO) dan dalam percakapan itu Epul meminta terdakwa mengambil barang jenis narkotika. "Terdakwa menyuruh dua pesuruhnya untuk mengambil barang tersebut," katanya.

Keduanya berhasil membawa sabu dari Medan untuk dibawa ke Jawa. Namun saat akan menyeberang di Pelabuhan Bakauheni, mobil yang ditumpangi diperiksa petugas Satnarkoba Polres Kalianda dan ditemukan satu koper besar yang berisikan 17 bungkus narkotika jenis sabu yang diketahui milik Septiyanto atas suruhan terdakwa.

Kasus tersebut kemudian dikembangkan dan keduanya dibawa ke Jawa (Tangerang), di sana penerima barang dihubungi Septiyanto. Saat akan mengambil narkoba, petugas menangkap Adi Fakih Usman alias Dodo.

Ksus tersu dikembangkan petugas dan kembali mengkap terdakwa di indekosannya di Bandar Lampung.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar