#pengerukanpasir#pertambangan

PT LIP Klaim Merugi Tidak Bisa Menyedot Pasir

( kata)
PT LIP Klaim Merugi Tidak Bisa Menyedot Pasir
Ilustrasi. Dok/Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co) -- PT Lautan Indonesia Persada (LIP) mengaku merugi karena tidak bisa mengeksploitasi atau menyedot pasir di sekitar perairan Pulau Sebesi. Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk berbagai keperluan penambangan tidak sedikit.

Direktur Marketing PT LIP Teddy mengaku sudah mengeluarkan biaya untuk mengurus perizinan, amdal hingga sewa kapal keruk, untuk berusaha menambang pasir. Namun, dia enggan memaparkan besaran biaya tersebut.

"Iya makanya (rugi) investor dirugikan kalau seperti ini. Kami sudah urus perizinan dari awal sampai akhir, ada amdal segala macam. (besarannya) saya kurang tahu," ujarnya, Senin, 1 Januari 2020.

Tedy mengklaim sejak izin keluar pada 25 Maret 2015, PT LIP sama sekali belum pernah menyedot pasir dalam skala besar. "Belum pernah, kemarin-kemarin itu baru percobaan, jajal-jajal saja," katanya.

Pasir tersebut, menurut Tedy, bakal digunakan kebutuhan reklamasi bagi siapa saja yang memesan, salah satunya untuk reklamasi di Jakarta. Namun, dia tak memaparkan secara rinci.

"Kalau yang bayar belum ada, kan ada uang ada barang, beberapa juga yang mau pesen kan melihat perkembangan karena di Lampung ada penolakan," katanya.

Disinggung soal penolakan dan dugaan tidak ada lagi payung hukum yang memberikan legalitas, Teddy menungkapkan itu menjadi dilema. Pasalnya, jika memang dilarang dan melanggar peraturan, kenapa  perizinannya bisa diloloskan.

Dia pun membantah kalau ada upaya penyedotan pasir di sekitar Cagar Alam Laut Gunung Anak Krakatau, termasuk isu pasir hitam. PT LIP mengaku hanya akan menyedot pasir laut biasa.

"Kami minta kejelasan (pemprov), boleh kerja apa enggak. Kalau cabut toh mereka enggak mencabut juga, seakan-akan kami dibiarkan," katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar