#batubara#investasi

Proyek Hilirisasi Batu Bara di Sumsel Jadi Investasi Terbesar AS setelah Freeport

( kata)
Proyek Hilirisasi Batu Bara di Sumsel Jadi Investasi Terbesar AS setelah Freeport
Hilirisasi batu bara. Ilustrasi


Jakarta (Lampost.co) -- Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkapkan pembangunan industri hilir batu bara di Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan merupakan investasi terbesar kedua setelah Freeport yang melibatkan perusahaan asal Amerika Serikat (AS).

Untuk tahap awal, proyek yang digawangi Air Products and Chemicals Inc., PT Pertamina dan PT Bukit Asam itu diproyeksikan akan menghabiskan dana Rp33 triliun.

"Ini investasi cukup besar. Investasi kedua terbesar setelah Freeport untuk tahun ini," ucap Bahlil memberi laporan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat groundbreaking proyek hilirisasi batu bara di Muara Enim, Sumatra Selatan, dilansir Mediaindonesia.com, Selasa, 25 Januari 2022.

Sebagai perbandingan, belum lama ini Jokowi juga baru meresmikan pembangunan pabrik pengolahan atau smelter milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur dengan total nilai mencapai Rp42 triliun.

Bahlil menargetkan Air Products and Chemicals bersama dua BUMN Tanah Air bisa menyelesaikan pembangunan pabrik pengolahan batu bara menjadi dimetil eter (DME) dalam kurun 30 bulan.

"Semula mereka minta 36 bulan. Setelah dirapatkan kembali, kami minta bisa selesai 30 bulan," ucap mantan Ketua Umum Hipmi itu.

Dengan masuknya Air Products and Chemicals sebagai salah satu investor terbesar di Indonesia, Bahlil dengan tegas membantah pemerintah hanya fokus atau memanjakan pengusaha-pengusaha dari negara-negara tertentu saja.

Pemerintah membuka kesempatan yang sama lebar bagi semua pelaku usaha di dunia untuk terlibat dalam pembangunan termasuk industri hilir di Tanah Air.

"Investasi ini dari Amerika, bukan dari Korea, Jepang, atau Tiongkok. Saya sekaligus menyampaikan tidak benar kalau ada pemahaman negara ini hanya fokus menggaet investasi hanya dari satu negara," tegas dia.

Jika rampung dan beroperasi, pabrik pengolah batu bara itu diperkirakan mampu memproduksi 1,4 juta ton DME atau setara satu juta ton LPG per tahun. Dengan adanya produksi tersebut, Indonesia bisa mengurangi impor LPG yang mencapai tujuh juta ton setiap tahun.

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar