#ajaransesat

Profil Natrom, Dewa Matahari Asal Bekasi

( kata)
Profil Natrom, Dewa Matahari Asal Bekasi
Natrom (62) pria asal Bekasi yang mengaku dewa matahari diamankan polisi. dok. metrotv


Jakarta (Lampost.co) -- Pria asal Bekasi, Jawa Barat, bernama Natrom, 62, membuat geger masyarakat karena mengaku sebagai dewa matahari. Natrom melarang orang-orang untuk salat.

Natrom sudah diamankan di Mapolsek Lebak. Sang dewa matahari itu dilaporkan banyak warga yang resah serta Forkopimcam Bayah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"Sekarang Natrom diamankan di Polres Lebak," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Polres Lebak AKP Indik Rusmono, dikutip dari Medcom.id, Jumat, 15 Juli 2022.

Baca juga: Muncul Ajaran Dewa Matahari, Larang Salat Hingga Tak Imani Nabi Muhammad SAW

MUI Kabupaten Lebak kini tengah mendalami dugaan penyebaran ajaran dewa matahari di Kecamatan Bayah. Wakil Ketua MUI Kabupaten Lebak Kiai Haji Ahmad Khudori mengungkapkan, apabila benar, Natrom bisa dikatakan menyebarkan aliran menyimpang dari ajaran Islam.

"Apabila ajaran itu dicampur-adukkan dengan kepercayaan Islam, itu tergolong aliran sesat. MUI Kabupaten Lebak akan mendalami kebenaran informasi tersebut dengan berkoordinasi bersama kepolisian," imbuh Ahmad Khudori.

Natrom berasal dari Bekasi, Jawa Barat. Dewa matahari itu membeli tanah dan menetapndi Desa Sawarna Bayah, Kabupaten Lebak. 

Ajarannya yang menyimpang sempat membuat panas warga sekitar. Dengan alasan keamanan Natrom diamankan Polsek Bayah agar selamat dari amukkan warga.

Kapolres Lebak AKBP Wiwin Setiawan mengatakan pihaknya melakukan pemeriksaan terhadap diduga pelaku dan bekerjasama dengan dokter spesialis kejiwaan.

"Dari hasil pemeriksaan tersebut yang bersangkutan diindikasikan gangguan kejiwaan, psikopatologi, yaitu diketemukan gejala gangguan jiwa yang dapat mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari, sehingga disarankan kontrol ke psikiater," ungkap Wiwin.

Menurutnya, dari hasil pemeriksaan Natrom cenderung memiliki pemahaman yang salah dan kesesatan berfikir. Namun, tidak masuk ke dalam penistaan agama. Hal itu dikuatkan dengan tidak adanya ajakan atau hasutan kepada pihak lain melainkan hanya pemikiran dan keyakinan pribadi. 

"Sehingga hal yang tepat terhadap terduga pelaku agar dilakukan pembinaan keagamaan dan pengobatan secara medis terkait penyakit gangguan kejiwaannya," katanya.

Effran Kurniawan






Berita Terkait



Komentar