#itera#seminar#deteksiPenyakit#beritalampung

Profesor NAIST Jepang Gandeng Itera Wujudkan Teknologi Deteksi Penyakit 

( kata)
Profesor NAIST Jepang Gandeng Itera Wujudkan Teknologi Deteksi Penyakit 
Studium generale Pencapaian Tingkat Lanjut dalam Biologi Molekuler dan Pemahaman tentang Penyakit Manusia serta seputar Pendidikan dan Penelitian di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang. (Foto:Lampost/Triyadi)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Institut Teknologi Sumatera (Itera) menghadirkan pembicara ahli dari Nara Institute of Science and Technology (NAIST), Jepang, Prof. Masashi Kawaichi dalam studium generale yang membahas dua topik sekaligus yaitu Pencapaian Tingkat Lanjut dalam Biologi Molekuler dan Pemahaman tentang Penyakit Manusia serta seputar Pendidikan dan Penelitian di Nara Institute of Science and Technology (NAIST) Jepang. 

Kegiatan tersebut dibuka Wakil Rektor Itera Bidang Akademik Prof. Dr.ing Mitra Djamal di Aula Gedung C Itera dan diikuti peserta dari 8 universitas lain seperti; UIN Kalijaga Yogyakarta, UIN Walisongo Semarang, UIN Ar-Raniry Aceh, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, UIN Sumatera Utara, UIN Maulana Malik Malang, UIN Raden Fatah Palembang and UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui konferensi video.

Sebelum kuliah umum dimulai, Direktur Itera International Office, Acep Purqon yang juga berperan sebagai moderator memperkenalkan profil Prof. Masashi Kawaichi.
“Beliau merupakan seorang dosen biologi senior bahkan pertama di NAIST sekaligus murid dari 2 penerima nobel kedokteran kebanggaan Jepang yakni ; Shinya Yamanaka (Nobel  Physiology or Medicine 2012) dan Tasuku Honjo The Nobel Prize in Physiology or Medicine 2018. Oleh karenanya, jangan sia-siakan kesempatan untuk menimba ilmu dari beliau.” kata Acep.

Pada topik pertama pemaparannya, Prof. Masashi Kawaichi menyampaikan bagaimana suatu gen bertanggung jawab atas berbagai macam penyakit yang kini bermunculan. Seperti penyakit yang berkaitan dengan retina, otak, tumor, bahkan pre-eklampsia. Dengan memahami mekanisme kerja protein dalam sebuah gen dengan baik maka akan akan semakin baik mempersiapkan obat yang lebih tepat untuk penanganan penyakit tersebut. Namun, Prof. Masashi Kawaichi menyebut satu pasien dan yang lain tentunya memiliki efek yang berbeda dalam pengobatan sehingga terdapat istilah precision drug atau costumized drug. Salah satu contoh penyakit yang diangkat dalam studium general tersebut adalah penyakit terkait retina pada mata. 

“Degenerasi makula atau Age-related Macular Degeneration (AMD/ARMD) adalah penurunan penglihatan pusat. Dari sampel darah bisa dilihat potensi AMD akibat aktivitas protein ini sehingga bisa dilakukan pencegahan awal supaya terhindar dari kebutaan saat usia lanjut. Saat ini di jepang pengidapnya 5 juta orang dan sedunia ada 50 jutaan orang.” ungkap Kawaichi. 

Sedangkan topik kuliah umum kedua membahas mengenai Pendidikan dan penelitian di NAIST. Kawaichi mengenalkan tentang NAIST yang telah berdiri sejak 1991 dan memiliki 3 jurusan yakni Information Science, Material Science dan Biological Science. 

“Meskipun NAIST tergolong universitas yang baru, tetapi telah memiliki penelitian yang intens, laboratorium canggih yang mendukung serta para pengajar yang masih muda dan aktif yang siap untuk membantu mahasiswa melakukan studinya.”

Triyadi Isworo

Berita Terkait

Komentar