#kopi

Produktivitas Kopi Rendah Buat Petani Tidak Sejahtera

( kata)
Produktivitas Kopi Rendah Buat Petani Tidak Sejahtera
Anggota DPR asal Lmapung Mukhlis Basri berfoto dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo usai acara diskusi.Dok.

Jakarta (Lampost.co) -- Lampung merupakan penghasil kopi terbesar kedua di Indonesia dengan memberikan kontribusi 24,19% dari produktivitas kopi nasional. Namun, hal itu belum mampu mengangkat kesejahteraan para petani.

Hal itu terungkap dalam diskusi yang bertema Silaturahmi penuh hikmah dalam rangka peringatan Hari Kopi Nasional di auditorium Kementerian Pertanian, Rabu, 13 Maret 2020. Pembicara menghadirkan Mukhlis Basri, anak seorang petani kopi asal Lampung Barat.

Mantan Bupati Lampung Barat dua periode itu membawakan materi tentang peningkatan kesejahteraan petani kopi di Indonesia khususnya Lampung.

“Saat ini petani kopi belum sejahtera. Hal itu akibat berbagai hal, di antaranya jumlah produktivitas yang masih sangat rendah. Petani kopi hanya menghasilkan 1—4 ton/hektare/tahun. Apabila diasumsikan dengan harga jual Rp18 ribu/kg, masih sangat rendah dari kebutuhan hidup layak,” kata Mukhlis yang juga ketua umum Dewan Kopi (Dekopi) Lampung itu dalam rilis yang diterima Lampost.co, Rabu, 11 Maret 2020.

Kegiatan yang juga dihadiri Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Ketua Umum Dewan Kopi Pusat Anton Apriantono, Mukhlis memberikan solusi bagaimana meningkatkan hasil produksi petani kopi, di antaranya dengan program bantuan bibit unggul.

“Pemerintah harus bekerja sama dengan perguruan tinggi dalam membudidayakan bibit unggul. Bibit yang disediakan tidak harus impor dari Vietnam atau Brasil. Gunakan saja bibit lokal yang telah melalui proses uji coba oleh perguruan tinggi,” kata anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Dia menambahkan rendahnya hasil panen kopi, terutama di Lampung, sangat dipengaruhi iklim karena apabila musim kemarau hasil akan lebih baik. Namun, sebaliknya apabila musim hujan hasil panen akan menurun.

“Saya ini petani kopi, jadi paham betul kondisi yang dialami petani. Oleh sebab itu, salah satu upaya pemerintah ada menghasilkan bibit yang cocok untuk semua musim, apalagi saat ini kebun kopi masyarakat sebagian besar tanaman tua yang sudah turun temurun,” ujarnya.

Anggota Komisi I DPR itu menekankan tidak kalah pentingnya adalah pendampingan tenaga profesional kepada petani. Sedangkan yang terjadi saat kebalikannya karena banyak penyuluh pertanian lapangan (PPL) alih tugas.

“Faktanya di lapangan banyak PPL yang jadi lurah, camat bahkan kepala dinas. Untuk itu ke depan alih tugas tersebut tidak ada lagi karena petani sangat butuh pendampingan dari PPL tentang bagaimana memilih bibit unggul, perawatan tanaman, dan membasmi hama yang banyak dikeluhkan,” katanya.

Dia juga menyampaikan secara kualitas kopi robusta Lampung tidak kalah dengan kopi dari daerah lain. Hal itu dibukti  kopi robusta Lampung Barat telah diakui negara luar. Bahkan, masuk 10 besar terbaik pada ajang kopi Speciality Indonesia dengan score cupping 88,38 untuk meraih penghargaan Bronze Gourmet pada ajang penghargaan AVPA Gourmet Product Paris 2018 pada kategori roastery D’Lampung dengan sampel kopi robusta petani Lambar.

“Secara kualitas dan rasa kopi robusta Lampung secara umum dan khususnya Lampung Barat tidak kalah dengan kopi dari daerah lain karena mampu meraih predikat terbaik pada ajang tingkat internasional. Tetapi kenapa petani kopi belum sejahtera, itulah menjadi tugas pemerintah mencarikan solusi terbaik. Ingat kopi, ingat Lampung Barat,” katanya.

Muharram Candra Lugina



Berita Terkait



Komentar