#kakao#perkebunan

Produktivitas Kakao Lampung Diharapkan Terbesar Nasional

( kata)
Produktivitas Kakao Lampung Diharapkan Terbesar Nasional
Kegiatan Coffee Morning di Bank Indonesia, Rabu, 19 Februari 2020

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi mengimbau agar Provinsi Lampung menjadi penghasil Kakao terbesar di Indonesia. Meskipun saat ini secara nasional Provinsi Lampung merupakan penghasil Kakao terbesar ke empat dan terbesar kedua di pulau Sumatera. Hal tersebut bukan berarti menjadikan Produktivitas Kakao melemah.

"Sentra produksi komoditi kakao di Lampung berada di beberapa kabupaten seperti Pesawaran, Lampung Selatan, Tanggamus dan Lampung Timur. Ke empat daerah ini harus terus digali potensinya untuk menjadikan Provinsi Lampung sebagai penghasil terbesar di Indonesia," kata Arinal, saat hadiri acara Coffee Morning, di Bank Indonesia, Rabu, 19 Februari 2020.

Seperti diketahui, dalam kurun waktu 2016 hingga 2018, Kabupaten Pesawaran dapat menghasilkan produksi Kakao hingga 30.059 ton dan Lampung Selatan di tahun 2017 dapat menghasilkan Kakao hingga 15.910 ton. 

Adapun Kabupaten Tanggamus dapat menghasilkan produksi Kakao hingga 7.000 ton lebih, serta Lampung Timur dapat menghasilkan 2.000 ton lebih Kakao tiap tahunnya.

"Tak Sampai produksi saja, ekspor Kakao Indonesia juga di tahun 2018 cukup meningkat seperti dalam persentase bubuk Kakao yang dapat menghasilkan Rp138,10 juta dolar atau 11,21 persen di tahun 2019. Untuk impor Kakao Indonesia juga dapat menghasilkan coklat bubuk dengan nilai persentase sebesar 8,77 persen dengan nilai Rp43,23 juta dolar," katanya.

Untuk negara tujuan ekspor, Kakao Indonesia berfokus ke beberapa negara seperti Amerika Serikat, Malaysia, Belanda, Cina dan India dengan nilai hampir menginjak angka 27,72 persen dengan nilai Rp3.452.300 dolar.

"Kendati demikian ada juga permasalahan dalam budidaya pemasaran kakao yang harus ditekan oleh para petani dan juga pemerintah diantaranya adanya serangan hama penyakit, kualitas biji kakao yang belum memenuhi standar, belum memiliki penangkar bibit kakao yang baik dan bersertifikasi. Hambatan perdagangan juga menjadi masalah berupa tingginya tarif bea ekspor khususnya untuk pasar Eropa serta SDM belum memiliki kompetensi yang memadai," ujarnya.

Sehingga menurutnya, Provinsi Lampung harus tingkatkan serta upayakan peningkatan dengan cara antisipasi dengan adanya permasalahan.

"Salah satu yang harus dihindari adalah memilah bagaimana petani tidak lagi memanam bibit jika umur sudah lebih dari 20 tahun. Karena hal tersebut akan menjadikan kualitas yang menurut sehingga produksi akan tidak berkualitas," katanya.

Setiaji Bintang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar