udangcovid-19

Produksi Udang di Lamsel Merosot saat Harga Naik

( kata)
Produksi Udang di Lamsel Merosot saat Harga Naik
Tambak udang. Lampost.co/Aan Kridolaksono


Kalianda (Lampost.co) -- Harga udang vaname di pasaran kembali naik secara bertahap setelah sempat anjlok akibat pandemi Covid-19. Namun produksi udang di pesisir timur kecamatan Ketapang,  dan Sragi kabupaten Lampung Selatan justru merosot.  

Sejumlah petambak maupun pengepul perikanan di pesisir timur Kecamatan Ketapang dan Sragi mengatakan harga udang vaname ukuran 100 misalnya, saat ini tembus Rp57 ribu per kg. Sementara saat wabah Covid-19 melanda pada awal Maret lalu, harga sempat anjlok di bawah Rp34 ribu per kg. Namun pertengahan Mei 2020, harga perlahan merangkak naik menjadi Rp43 ribu lalu ke Rp48 ribu per kg.

Sepekan kemudian harga naik kembali menjadi Rp53 ribu per kg. Hingga saat ini, mencapai Rp57 ribu per kg. Sedangkan ukuran 60 meingkat dari harga Rp67 ribu naik menjadi Rp78 ribu per kg. 

"Hanya saja hasil panen turun 30 sampai 40 persen karena gangguan virus berak putih dan faktor cuaca," kata salah seorang pengepul udang di Jalinpantim Way Sidomukti,  Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Jono kepada Lampost.co, Rabu,  17 Juni 2020.

Harga udang yang sempat jatuh di awal pandemi Covid-19 ini disebabkan distribusi hasil budidaya dan pakan yang terganggu.

Selain itu,  ujar Jono, saat covid-19 petambak enggan kembali membudidayakan udang lantaran takut anjlok dan merugi seperti saat awal pandemi lagi.  "Saat ini harga sudah naik dan juga permintaan naik,  namun pasokan belum pulih.  Karena masih ada petambak yang belum beroperasi penuh," imbuhnya.  

Hal senada diungkapkan Anto,  petambak di pasisir timur Desa Berundung, Kecamatan Ketapang. Menurutnya,  kenaikan harga komoditas utama masyarakat pesisir timur Ketapang dan Sragi ini tidak menjadi kabar baik bagi  petani tambak. Sebab,  selain dampak pandemi covid-19,  selama musim pancaroba sebagian besar petani panen dini, bahkan gagal panen.

“Sejak mamasuki musim kemarau pasokan air tidak stabil,  padahal harga sedang bagus setelah anjlok gegara Covid-19," katanya. 

Selain pasokan air yang tidak stabil,  jelas Anto,  mengakibatkan kadar keasinan air menjadi meningkat dan menyebabkan udang mati. "Biasanya satu kolam dengan 100 ribu benih  bisa hasilkan 1 ton, namun sekarang tak sampai 5 kuintal,” ungkapnya.  

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar