#ekonomi#minyak

Produksi AS Pengaruhi Harga Minyak di 2020

( kata)
Produksi AS Pengaruhi Harga Minyak di 2020
Ilustrasi. FOTO: AFP PHOTO/SCOTT HEPPELL


New York (Lampost.co) -- Pertanyaan tentang seberapa banyak produsen minyak mentah Amerika Serikat (AS) bisa meningkatkan jumlah produksi menjadi sangat penting untuk menilai pergerakan harga minyak pada 2020. Pasalnya, ada beberapa potensi yang memicu koreksi terhadap harga dalam beberapa bulan mendatang.
 
Mitra Senior Macro-Advisory Chris Weafer menyarankan ada beberapa faktor kritis yang bisa ditetapkan untuk memberikan pengaruh terbesar terhadap masa depan minyak mentah tahun ini. Dua faktor pertama diidentifikasi sebagai pertumbuhan permintaan minyak dan kesepakatan saat ini antara OPEC dan mitra sekutunya.
 
Sekutu OPEC atau sering disebut sebagai OPEC+ sepakat untuk memotong produksi minyak dengan tambahan 500 ribu barel per hari dari 1 Januari 2020. Langkah itu merupakan tindakan lebih lanjut terkait memperdalam pemotongan sebelumnya sebesar 1,2 juta barel per hari.

"Ketidakpastian besar tahun ini -dan sudah mulai dibicarakan- adalah dapatkah atau akankah produsen AS dapat terus menambah volume tambahan sebanyak yang telah mereka lakukan selama tujuh atau delapan tahun terakhir? Ini adalah pertanyaan besar," kata Weafer, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 4 Januari 2020.
 
Badan Energi Internasional memproyeksikan bulan lalu bahwa total pertumbuhan produksi minyak AS akan melambat menjadi 1,1 juta barel per hari pada 2020 atau turun dari 1,6 juta barel per hari pada 2019. Weafer mengatakan, dengan asumsi kesepakatan OPEC+ tetap berlaku, harga minyak harus diperdagangkan dalam kisaran harga USD60 hingga USD70.
 
Meski demikian, ia memperingatkan, banyak yang khawatir bahwa pertumbuhan produksi AS mungkin telah melewati puncaknya, di tengah spekulasi industri tidak akan dapat meningkatkan produksi pada tingkat yang sama pada 2020 seperti yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.
 
Adapun peningkatan produksi dari minyak serpih telah membantu AS menjadi produsen minyak terbesar di dunia dan salah satu eksportir terkemuka. Dalam dekade terakhir, AS memiliki lebih dari dua kali lipat produksi minyak menjadi 12,66 juta barel per hari, menurut data yang diterbitkan oleh Administrasi Informasi Energi.
 
"Neraca permintaan-penawaran untuk kuartal pertama dan paruh pertama tahun ini tidak menjamin penurunan besar dalam persediaan minyak global," kata Analis Senior PVM Oil Associates Tamas Varga, dalam catatan penelitian.
 
Varga mengatakan sementara tidak ada kehancuran harga signifikan yang diantisipasi dalam jangka pendek, koreksi ganas dapat terjadi dalam beberapa bulan mendatang. "Paruh kedua tahun ini terlihat lebih cerah karena permintaan global akan meningkat pada akhir tahun. Neraca minyak akan semakin ketat asalkan OPEC terus memenuhi peran produsennya," pungkasnya.
 
 

Medcom







Berita Terkait



Komentar