#ekonomilampung#bps

Produk Domestik Bruto Lampung Tembus Rp371,9 Triliun

( kata)
Produk Domestik Bruto Lampung Tembus Rp371,9 Triliun
Kepala BPS Provinsi Lampung, Endang Retno Sri Subiyandani saat penyampaian pertumbuhan ekonomi Lampung, Senin, 7 Februari 2022. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Provinsi Lampung tahun 2021 diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp371.903,17 miliar. Ekonomi Provinsi Lampung di triwulan IV-2021 tumbuh sebesar 5,15%.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Endang Retno Sri Subiyandani mengatakan ekonomi Provinsi Lampung tahun 2021 tumbuh sebesar 2,79% (C-to-C). Kemudian untuk triwulan IV-2021, ekonomi tumbuh sebesar 5,15% (Y-on-Y). Ekonomi Lampung Triwulan IV-2021 juga terkontraksi sebesar 6,37% (Q-To-Q).

"Ekonomi Provinsi Lampung tahun 2021 diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp371.903,17 miliar dan PDRB atas dasar harga konstan tahun 2010 mencapai Rp247.001,67 miliar," katanya saat penyampaian pertumbuhan ekonomi Lampung, Senin, 7 Februari 2022.

Baca: Nilai Tukar Petani Lampung Naik 0,52%

 

Ekonomi Provinsi Lampung tahun 2021 tumbuh sebesar 2,79%, menguat  dibanding tahun 2020 yang mengalami kontraksi sebesar 1,67%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor sebesar 8,26%. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 13,78%.

Ekonomi Provinsi Lampung triwulan IV-2021 terhadap triwulan IV-2020 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,15%. Dari sisi produksi, lapangan usaha perdagangan besar-eceran dan reparasi mobil-sepeda motor mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 16,81%. Dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 9,80%.

Ekonomi Provinsi Lampung triwulan IV-2021 terhadap triwulan sebelumnya (q-to-q) mengalami kontraksi sebesar 6,37%. Dari sisi produksi, lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam adalah pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 22,68%. Dari sisi pengeluaran, kontraksi didorong oleh pertumbuhan negatif pada komponen ekspor barang dan jasa sebesar 4,02%.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar