#STUNTING#KESEHATAN#BERITAPRINGSEWU

Pringsewu Belum Miliki Data Balita Penderita Stunting pada 2020

( kata)
Pringsewu Belum Miliki Data Balita Penderita Stunting pada 2020
Stunting:Ilustrasi


Pringsewu (Lampost.co) -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Pringsewu belum memiliki data balita penderita stunting pada 2020. 

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinkes Pringsewu, Rahmadi, menyatakan kabupaten Pringsewu baru lokus untuk prioritas stunting pada 2021. Dengan demikian, tidak memiliki pembanding data antara balita penderita stunting pada 2020 dan balita penderita stunting pada 2021. "Jadi, Pringsewu baru tahun 2021 ini menetapkan lokus stunting," katanya didampingi Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi, Tri Nova Nurhayati, di ruang kerja, Kamis, 25 Maret 2021. 

Rahmadi menjelaskan berdasarkan hasil penelitian pada 2020, penderita stunting pada 2021 sebanyak 2.414 balita dari angka kelahiran 28000 balita. Menurutnya, faktor penyebab terjadinya stunting antara lain saat hamil kurang asupan gizi, tidak dikasih ASI eksklusif minimal enam bulan, selama enam bulan ke atas tidak diberi makanan tambahan. 

Ia menyatakan faktor lain adalah pernikahan usia di bawah umur. Rahmadi menyebutkan pernikahan dengan usia di bawah umur menjadikan psikis tidak stabil. Sedang faktor luar adalah kebersihan lingkungan yang menyebabkan balita sering diare sehingga berdampak pada kesehatannya. Kemudian, pola pengasuhan dan pemberian gizi.

Rahmadi juga menjelaskan stunting baru bisa dilihat saat 1000 hari pertama kehidupan, yang dihitung mulai dari kehamilan sampai umur dua tahun. (1000 HPH). Menurutnya, faktor terjadinya stunting dari hasil penelitian adalah 30 persen karena faktor kesehatan secara spesifik, sedangkan 70 persennya karena faktor luar yaitu sanitasi kurang sehat, malas mengecek kesehatan saat hamil, dan kurang gizi.

Rahmadi melanjutkan bayi baru lahir jika panjangnya kurang dari 50 cm, bisa diduga menderita stunting. Biasanya, jika saat lahir kurang dari 50 cm, faktornya disebabkan saat hamil ibunya kurang memeriksa kesehatannya termasuk gizi. Menurutnya, jika saat hamil kurang gizi, akan mengakibatkan pendarahan dan bayinya bisa kecil.

Rahmadi menambahkan kehamilan yang memiliki risiko stunting bisa terjadi bukan hanya karena pernikahan di bawah umur, melainkan juga karena hamil di atas 45 tahun. Ia menegaskan hingga kini terdapat 21 pekon yang akan menjadi fokus penelitian lokus stunting pada 2021.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar