#kemiskinan

Pria Tua di Bandar Lampung 5 Tahun Hidup di Kandang Kambing

( kata)
Pria Tua di Bandar Lampung 5 Tahun Hidup di Kandang Kambing
Keadaan gubuk Pak Wito di Gang Sentosa Dua, Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Lampost.co/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Hidup bersama enam kambing harus dijalani pria berusia 61 tahun ini. Suwito menjalani hidupnya juga sebatang kara selama hampir lima tahun di kandang kambing berukuran 3x3 meter. Kambing itu pun milik temannya.

Kandang kambing itu berada di Gang Sentosa Dua, Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjungkarang Barat, Bandar Lampung. Letaknya di ujung gang, ditengah semak belukar. 

Saat ditemui, Pak Wito sapaannya, baru pulang dari mencari rumput liar untuk hewan peliharaan milik orang, seperti kambing atau sapi. 

Baju kotak-kotak hijau dengan topi abu-abu lusuh berlogo bendera Vietnam, dengan arit dalam genggamannya. Kehidupan itu terbiasa dijalani dengan keadaannya saat ini. 

"Begini lah keadaannya, lima tahun tinggal, tidur, makan, ditemani kambing. Kambingnya punya teman. Saya hanya mengurus saja nanti dikasih upah," kata Pak Wito, Sabtu, 29 Oktober 2022.

Dia bercerita, pertama kali menginjakkan kaki di tanah Lampung pada 1970. Saat raganya masih muda, dia bekerja sebagai buruh pabrik keramik di Bandar Lampung. 

"Saya pertama di Lampung kerja di pabrik tehel, dekat hotel Marcopolo. Setelah itu sempat kerja jadi kuli bangunan," katanya. 

Sementara istrinya meninggal beberapa tahun lalu dan tidak memiliki anak. Untuk makan, ia bekerja juga sebagai pemulung di sekitar Tanjungkarang Barat. 

"Mau makan ya bekerja, saya juga mulung untuk menghidupi diri sendiri. Sehari keliling disekitar sini saja, karena nggak punya kendaraan. Biasanya sehari Rp10 ribu, sambil jalan pulang beli makan atau supermie," kata dia. 

Untuk bekerja, dia mengaku kesulitan karena tangan kanannya yang tidak normal akibat kecelakaan kerja beberapa tahun lalu. 

"Tangan bapak ini yang kanan nggak bisa genggam lagi karena dipasangi pen. Tapi, tenaganya kalau untuk angkat-angkat masih ada, cuma nggak bisa genggam," kata dia. 

Untuk memasak, Pak Wito hanya menggunakan tungku buatan dari tumpukan batu. Apinya berasal dari kayu bakar yang dikumpulkannya. Hal itu pun dilakukan jika ada beras atau mi instan. 

"Kalau nggak ada ya bakar singkong dari kebun punya orang yang saya jaga. Alhamdulillah rejeki selalu ada," katanya. 

Sementara untuk istirahat malam, dia hanya tidur di atas papan yang dialasi karpet merah pemberian tetangga. Tidak ada satu pun penerangan di gubuk itu, apalagi televisi. 

"Nggak takut, kalau kita baik dengan sesama makhluk hidup pasti juga mendapatkan kebaikan. Pernah ada ular sebesar lengan waktu tidur, tapi nggak apa-apa, saya usir dan ularnya pergi," kata dia. 

Meski keadaannya memprihatinkan, Wito tidak pernah mengeluh. Dia selalu menilai Tuhan memberikan kecukupan bagi umatnya di bumi. 

"Gusti Allah sudah mengatur, buktinya saya hidup sendiri tanpa listrik, tanpa dinding, dan masih hidup cukup. Makan kalau saya nggak punya, orang datang kasih makanan. Saya merasa tidak ada yang kurang, kuncinya bersyukur," ujarnya.

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar