Palestinamogokmakan

Pria Palestina Akhiri Aksi Mogok Makan usai 103 Hari

( kata)
Pria Palestina Akhiri Aksi Mogok Makan usai 103 Hari
Protes di Palestina minta pembebasan Maher al-Akhras. Foto: AFP.


Tepi Barat (Lampost.co) -- Tahanan politik Palestina, Maher al-Akhras yang ditahan tanpa dakwaan atau pengadilan sejak Juli, mengakhiri aksi mogok makan selama 103 hari. Aksinya berakhir setelah ia mendapatkan kesepakatan untuk pembebasan.

Istrinya, Taghrid al-Akhras mengatakan jika sang suami ditahan oleh Israel karena dituduh menjadi anggota kelompok bersenjata.

"Ia menghentikan aksi mogok makannya setelah 103 hari," ucap Taghrid, dilansir dari Middle East Eye, Sabtu, 7 November 2020.

Taghrid menambahkan kondisi suaminya saat ini masih parah. Namun, ia senang sang suami akan dibebaskan.

Menurut Kelompok Tahanan Palestina, Akhras mengakhiri aksi mogok makannya setelah otoritas Israel setuju untuk tidak memperpanjang penahanannya melebihi 26 November.

"Dia akan menghabiskan sisa waktu sampai pembebasannya dengan menerima perawatan di rumah sakit," seru kelompok tersebut.

Perdana Menteri Palestina, Mohammad Shtayyeh juga menuntut pembebasannya segera. Ia juga menuntut para pengunjuk rasa Palestina di Tepi Barat, Gaza yang ditangkap Israel.

Akhras, 49, ditangkap pada 27 Juli dan langsung melakukan aksi mogok makan. Ia sama sekali tidak makan dan minum. Sejak September lalu, ia dirawat di rumah sakit di Kaplan Medical Center.

Pria kelahiran 1971 ini berasal dari desa Salileh, dekat kota Jenin, Tepi Barat Palestina. Ayah enam anak itu sudah dipenjara otoritas Israel setidaknya lima kali sejak ia berusia 18 tahun.

Winarko







Berita Terkait



Komentar