#pertanian

Pria di Tulangbawang Ciptakan Puluhan Mesin Pemangkas Ongkos Pertanian

( kata)
Pria di Tulangbawang Ciptakan Puluhan Mesin Pemangkas Ongkos Pertanian
Nurhadi sedang menunjukkan kinerja mesin penggilingan padi yang ia modifikasi. Lampost.co/Ferdi Irwanda


Menggala (Lampost.co) -- Seorang petani asal Kampung Batanghari, Kecamatan Rawapitu, Kabupaten Tulangbawang, Nurhadi menciptakan mesin penggiling padi dengan hasil beras kualitas premium. 

Mesin pengolah serbaguna itu diklaim mampu menekan biaya produksi gabah menjadi beras hingga mengantarkannya masuk 10 besar lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) unggulan tingkat nasional tahun 2021.

Nurhadi menuturkan, mula-mula ia melakukan penelitian dan memodifikasi mesin penggilingan padi mini lantaran mendengar keluhan petani terkait dengan tingginya ongkos menggiling padi. 

"Biaya menggiling padi dengan mesin besar itu lumayan juga, belum lagi ditambah biaya tanam dan perawatan. Sementara hasil panen tak menentu. Berawal dari situ, saya berusaha menciptakan alat yang murah dan hemat biaya tetapi dengan hasil produksi mampu bersaing," kata dia, Jumat, 3 Agustus 2021.

Baca: Pemkab Tuba Anggarkan Rp500 Juta untuk Usaha Masyarakat

 

Di pasaran, ujar dia, banyak mesin penggiling padi mini dijual. Namun, nilai jual beras yang dihasilkan masih belum kompetitif. Sementara, dengan mesin penggilingan yang ia modifikasi dapat menghasilkan beras berkualitas, karena kandungan beras kepala besar mencapai 95% dan derajat sosoh 100%. 

"Beras yang dihasilkan dengan penggilingan mesin ini berkualitas premium. Keunggulan lainnya tidak ada limbah karena kulit padinya langsung jadi dedak halus (jadi pakan ternak) tidak ada sekam," ujarnya.

Ada dua jenis modifikasi penggerak mesin yang dihasilkan saat ini, yakni dengan menggunakan mesin disel dan dinamo atau listrik dengan biaya pembuatan berkisar Rp5 juta per mesin. Mesin itu mampu mengolah 150 kg gabah per jamnya.

"Kalau menggunakan disel menghabiskan setengah liter solar perjam atau biayanya Rp3.000, sedangkan kalau pakai listrik biayanya lebih hemat cuma Rp2.400, " kata dia. 

Ia mengaku tengah berencana kembali memodifikasi mesin pengolah serbaguna yang juga dapat mengolah beras jadi tepung, jagung jadi pakan ternak, dan menggiling gaplek menjadi tepung dengan sistem penggerak mesin mengandalkan tenaga surya. 

Memodifikasi mesin dengan mengandalkan cahaya matahari, kata dia, membutuhkan modal tinggi diawal yang akan digunakan untuk membuat dua panel tenaga surya, dua buah aki, dinamo, dan inverter atau alat pengubah daya. Upaya itu dilakukan untuk menekan kembali biaya produksi mesin. 

"Untuk satu mesin biaya modifikasinya sekitar Rp24 juta," ujar dia. 

Puluhan mesin modifikasi telah ia ciptakan dalam kurun waktu sejak tahun 2019 hingga 2021. Mesin hasil modifikasinya pun berhasil terjual hingga ke pulau Kalimantan dan Jawa. 

"Ada sekitar 30 unit pembelinya. Ada yang dari Kalimantan, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Serang, Banten. Harganya variasi ada yang Rp7,5 juta dan Rp9,5 juta per unit tergantung mesin yang dipakai," kata Nurhadi. 

Berkat keterampilannya itu, Nurhadi berhasil menjuarai lomba TTG tingkat Provinsi Lampung. Ia akan kembali mempresentasikan demo hasil karyanya kepada dewan juri tingkat nasional melalui daring pada 9 September 2021 mendatang. 

Nurhadi mengaku, inovasi yang ia ciptakan bukan semata untuk mencari keuntungan dari menjual alat, melainkan upaya untuk membantu petani meningkatan pendapatannya. 

"Saya berharap mesin ini dapat bermanfaat untuk seluruh masyarakat dalam membangun ekonomi kerakyatan," ujar dia.

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar