#internasional#beritainternasional

Presiden Korsel Serukan Perdamaian dengan Korut Jelang Akhir Kepemimpinan

( kata)
Presiden Korsel Serukan Perdamaian dengan Korut Jelang Akhir Kepemimpinan
Warga Korsel menonton pidato Tahun Baru Presiden Moon Jae-in di sebuah stasiun kereta di Seoul, 3 Januari 2022. (Jung Yeon-je / AFP)


Seoul (Lampost.co) -- Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in bertekad menggunakan waktunya yang tersisa sebagai pemimpin negara dalam mendorong terobosan diplomatik dengan Korea Utara (Korut). Masa jabatan Moon sebagai presiden akan berakhir pada Mei mendatang.

"Pemerintah akan mengejar normalisasi hubungan antar-Korea dan jalan perdamaian abadi," kata Moon dalam pidato Tahun Baru terakhirnya, dilansir dari Channel News Asia, Senin, 3 Januari 2022. 

"Saya berharap upaya dialog akan berlanjut di pemerintahan berikutnya," lanjut dia.

Moon mengadakan beberapa pertemuan dengan pemimpin Korut Kim Jong-un selama 2018-2019. Namun, pembicaraan berhenti di tengah ketidaksepakatan atas tuntutan internasional agar Korut menyerahkan gudang senjata nuklirnya. 

Baca juga: Korut Akhirnya Pulihkan Komunikasi dengan Korsel

Ia mendorong deklarasi akhir perang sebagai cara memulai kembali negosiasi yang macet tersebut. Pemerintahan Moon juga mengisyaratkan diskusi tertutup dengan Pyongyang.

Namun, Korut belum secara terbuka menanggapi desakan terbaru itu. Sedangkan Amerika Serikat (AS) yang merupakan sekutu Korsel mendukung gagasan tersebut, tapi tidak sepakat mengenai waktunya.

"Memang benar jalan masih panjang, tapi jika hubungan antar-Korea membaik, masyarakat internasional akan mengikuti," lanjutnya.

Menurut Moon, jangkauannya ke Korut dimungkinkan dengan pembangunan militer besar-besaran yang membantu membuat Korsel lebih aman. "Perdamaian mungkin terjadi pada keamanan yang kuat," ujar Moon.

Sementara itu, dalam pidato Malam Tahun Baru, Kim Jong-un tidak menyinggung apapun seputar dialog denuklirisasi yang terhenti dengan AS. Alih-alih nuklir, Kim justru berfokus pada masalah domestik mereka saat ini, terutama mengenai krisis pangan.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar