#wawancarakhusus#presiden#medcom

Presiden: Kabinet Butuh Anak Muda

( kata)
Presiden: Kabinet Butuh Anak Muda
Presiden Joko Widodo saat wawancara khusus dengan Medcom.id di Istana Kepresidenan Bogor. (Foto:dok.Istana Kepresidenan).

BOGOR (Lampost.co)--Senyum ramah tak hilang dari wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi) meski seabrek pekerjaan telah dilahapnya. Sang Kepala Negara terlihat segar meski melewati perjalanan panjang di akhir pekan, mulai dari Osaka, Jepang; hingga Surabaya dan Jakarta.
 
Wajah cerianya kentara saat menyambut jurnalis Medcom.id (grup Lampung Post), saat memasuki ruang kerja Presiden di Istana Kepresidenan, Bogor, Senin, 1 Juli 2019 sore. Presiden bahkan menyalami satu per satu. Tim Medcom.id mendapat kesempatan mewawancarai khusus Presiden di Istana Kepresidenan Bogor.
 
Kepala Negara menyambut tim Medcom.id di kursi kayu yang disusun melingkar di tengah ruangan. Bogor menjelang sore begitu sejuk. Semilir angin berembus dari dua jendela besar yang terbuka lebar di sebelah kanan ruangan. Pohon rindang di Kebun Raya Bogor mengintip dari jendela. 

Ada banyak hal yang dibicarakan Presiden Jokowi. Mulai dari program utama periode berikutnya, pentingnya rekonsiliasi hingga akar rumput, rencana pertemuan dengan Prabowo Subianto, tentang pentingnya oposisi bagi pemerintah, pertumbuhan ekonomi, dan perizinan yangn jelimet.

Presiden juga bicara tentang betapa cepatnya pertumbuhan teknologi dan perkembangan dunia. Postur kabinet periode berikutnya juga akan menyesuaikan perkembangan itu.
"Siapa? Anak-anak muda yang mengerti perubahan-perubahan sekarang ini yang cepat sekali. Kita baru satu belajar, sudah nongol yang lain," kata Presiden.
 
Generasi muda akan mendapatkan kesempatan duduk di kabinet. Kepala Negara yakin anak muda akan membuat kabinet terlihat lebih segar dan berwarna.
 
Berikut wawancara lengkap Medcom.id dengan Presiden Joko Widodo:
 
* Usai KPU menetapkan pemenang pemilu, Pak Presiden bilang besok langsung kerja. Persoalan apa yang harus segera diatasi?

Pertama, dalam lima tahun ke depan kita tetap akan meneruskan pembangunan infrastruktur, tapi lebih meluas dan lebih cepat. Kedua, kita geser fokus pada pembangunan manusia, terutama yang berkaitan dengan peningkatan kualitasskill, keterampilan. Itu harus bisa dinaikkan ke level yang lebih tinggi, standar yang lebih tinggi.
 
Ketiga, membuka investasi yang seluas-luasnya dalam rangka membuka lapangan pekerjaan yang sebesar-besarnya. Ini berkaitan dengan investasi. Ini dilihat betul karena yang ditunggu masyarakat memang masalah lapangan pekerjaan.
 
Keempat, berkaitan dengan reformasi birokrasi dan reformasi struktural, perizinan yang bertele-tele, urusan pelayanan publik yang lama, saya sudah minta pangkas dan sederhanakan, segera dibereskan. Terakhir, berkaitan dengan bagaimana kita mengumpulkan pendapatan yang lebih banyak, pajak maupun nonpajak, dan menggunakan atau membelanjakan dengan tepat sasaran.
 
Selain yang lima ini, tentu saja kita tahu harapan masyarakat mengenai bagaimana kita bisa berangkulan kembali terhadap polarisasi dari pemilu selama 10 bulan terakhir. Ini mengganggu persaudaraan kita. Ini mulai harus segera diselesaikan sehingga kita kembali lagi kepada kehidupan yang normal.
 
* Normal itu seperti apa, Pak?

Kita harapkan seluruh elite politik menyampaikan dan memberikan contoh. Elite politik di tingkat nasional, provinsi, hingga kabupaten atau kota seperti bupati-wali kota atau gubernur, semuanya harus memberikan contoh yang baik dan betul-betul konkret.
 
Misalnya, saya ini sudah menyampaikan berkali-kali. Saya ini presiden untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Artinya apa? Kita jangan berpikir di daerah (yang pada pemilu) kalah tidak dibangun. Di daerah yang (pemilunya) menang (dibangun). Enggak seperti itulah. Semua sama. Kita ingin membangun negara. Tidak akan ada hal seperti itu. Dalam politik itu biasa ada yang menang dan ada yang kalah. Daerah menang, daerah kalah, juga biasa. Kalau saya melihatnya seperti itu.
 
* Sepenting apa pertemuan Pak Jokowi dengan Pak Prabowo?

Dari kemarin saya sampaikan, ditanyakan saja. Sudah sejak awal saya sampaikan, kapan pun siap bertemu. Jadi, tanyakan saja kepada Pak Prabowo. Pak Prabowo kapan bertemu dengan Pak Jokowi? 
 
Soal rekonsiliasi, ada beberapa pihak menerjemahkan rekonsiliasi itu semuanya masuk dalam gerbong koalisi pemerintah, persis seperti itu?

Sebetulnya enggak apa-apa. Selalu saya sampaikan, saya terbuka untuk siapa pun yang membangun negara ini, bekerja untuk memajukan negara ini enggak apa-apa. Tapi, secara politik dan demokrasi, harus adacheck and balance. Agar yang mengkritisi itu ada. Yang mengawasi itu ada. Kalau semua di dalam, yang mengawasi siapa? Yang mengkritisi siapa? Kalau saya sih mau-mau saja. Tapi, sekali lagi, dalam demokrasi memang harus ada yang di dalam dan yang di luar.
 
* Idealnya porsi di luar pemerintahan seperti apa? Karena sepertinya di awal pemerintahan periode ini opisisi agak mengganggu dalam merumuskan kebijakan?

Yang bisa memberikan kritik konstruktif. Memberikan solusi, kemudian bisa memberikan keseimbangan antara pemerintah dan di luar pemerintahan. Ya, memang demokrasi yang benar seperti itu. Tapi, kalau semuanya pengen di dalam bagaimana?
Ada yang bilang, harus mendahulukan yang berkeringat dulu…
Hahahaha..Ya, logika politiknya memang harus seperti itu.
 
* Kekuatan oposisi sepertinya solid, apa ini tidak terlalu riskan bagi pemerintah untuk memuluskan kebijakan?

Enggak, biasalah dalam politik. Kerja sama politik itu penting, tapi yang terpenting itu memiliki kesamaan visi. Jangan sampai di dalam bersama-sama, tapi visinya berbeda. Itu nanti jadi enggak karu-karuan. Artinya apa? Dalam setiap kebijakan itu kita memiliki gagasan memiliki ide pemikiran yang sejalan, sehingga betul-betul pembangunan bisa kita lakukan secara cepat karena di-backupoleh dukungan politik baik di parlemen dan di luar parlemen. Karena di depan butuh kecepatan.
 
* Transaksi perdagangan sempat agak turun? Dan bagaimana juga ekspor impor kita? Strategi ke depan menghadapi situasi global yang masih penuh ketidakpastian itu seperti apa?

Kita harus melihat, mengatakan apa adanya. Pertumbuhan ekonomi global menurun. Kemarin saya ketemu Bank Dunia, IMF (Dana Moneter Internasional), dan OECD (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi). Semuanya mengatakan turun. Kemudian, problem kita ini kan di neraca transaksi berjalan, problem kita ada di defisit neraca perdagangan, dan defisit transaksi berjalan.
 
Problem itu bisa diselesaikan kalau kita bisa meningkatkan ekspor. Kemudian, mengganti barang-barang subtitusi impor. Saya tahu semuanya itu.
 
Dan kalau mau meningkatkan ekspor, saat pasarnya melemah, kan juga tidak mudah. Saya kira, perasaan mendasar kita ke depan, dan saya masih meyakini apabila kita bisa menyelesaikan aturan-aturan birokrasi, regulasi-regulasi yang menghambat, perizinan-perizinan yang bertele-tele itu bisa kita selesaikan.
 
Saya masih yakin investasi akan datang lebih besar, baik dari dalam maupun dari luar. Peningkatan ekspor juga bisa kita lakukan karena pemerintah memberikan ruang insentif dan disinsentif. Saya kira kita masih optimistis bahwa ekonomi kita lebih baik.
 
* Sepertinya Pak Presiden sudah berkali-kali menyampaikan izin yang bertele-tele, sebenarnya apa sih yang paling susah?

Ya, membangun sistemnya. Kalau sistemnya enggak dibangun dengan aplikasi sistem yang bagus, sampai kapan pun tidak akan selesai. Kita kan sudah menyelesaikanonline single submission, tapi tidak semua kementerian bisaconnectdengan aplikasi sistem ini. Daerah juga belum, provinsi, kabupaten/kota juga belum. Ya bagaimana? Yang paling penting kalau sistem ini berjalan, akan ada kecepatan. (Masa) mengurus (izin) sampai bertahun-tahun.
 
Mengurus izin berbulan-bulan saja enggak boleh, apa lagi bertahun-tahun. Keinginan kita izin ya sejam dua jam rampung, gitu. Yang namanya kecepatan ya itu, semua negara melakukan itu. Kita masih urusan izin manual, ketemu orang per orang, ya kapan kita bisa bersaing. Itu yang mau kita benahi.
 
* Kira-kira tipologi kabinet seperti apa yang bisa mempercepat proses-proses yang disampaikan Pak Presiden tadi?

Dunia sekarang berubah cepat sekali. Betul-betul sangat cepat. Kita merasakan betul. Sehingga, periode ke depan ini tantangannya juga berubah, tantangan berbeda. Kabinet yang dibutuhkan juga berbeda. Sehingga sering saya sampaikan, ke depan ini memang warna untuk yang muda-muda ini perlu diberi ruang. Bisa nanti menteri umur 25 tahun, 20 tahun, atau 30 tahun. Kenapa tidak. Karena kita harus fleksibel, menyesuaikan perubahan-perubahan dunia, jadi apa, yang bisa merespons perubahan-perubahan itu ya anak-anak muda.
 
Sehingga, sekali lagi kita butuh menteri-menteri yang enerjik, dinamis, inovatif, penuh kreativitas. Siapa? Anak-anak muda yang mengerti perubahan-perubahan sekarang ini yang cepat sekali. Kita baru satu belajar, sudah nongol yang lain.Hehehe.
 
* Sekarang malah sudah revolusi industri 5.0?

Iya, kita bicara revolusi industri 4.0, ganti sudah 5.0. Kita baru belajarartificial intelligence,virtual reality,internet of things,big data, muncul lagi barang baru. Duh, ini apa. Itu anak muda (yang mengerti).
 
Itu nanti presentasenya bisa berapa persen (menteri dari anak muda)?
Ya, mewarnailah.Fresh.
 
 

Medcom.id

Berita Terkait

Komentar